Perkebunan kelapa sawit tidak berkontribusi pada peningkatan akses masyarakat desa terhadap pendidikan (Mitos 4-10)
Peranan perkebunan kelapa sawit di bidang pendidikan telah dibuktikan secara empiris. Kontribusi tersebut dapat dilihat melalui dua mekanisme yakni peningkatan akses masyarakat pada pendidikan dan penyediaan fasilitas pendidikan di daerah perkebunan kelapa sawit.
Perkebunan kelapa sawit merupakan kegiatan ekonomi pioner di wilayah yang tergolong degraded land yang terisolir, terpinggir, dan pelosok. Lokasi perkebunan yang terisolir tersebut menyebabkan perusahaan perkebunan kelapa sawit membangun berbagai fasilitas umum untuk mengakomodir kebutuhan para karyawan perusahaan, salah satunya fasilitas pendidikan (sekolah) tingkat PAUD/TK, SD, dan SMP.
Awalnya fasilitas pendidikan tersebut diperuntukkan untuk anak-anak karyawan perusahaan yang bersangkutan. Namun perkembangan di kemudian hari, fasilitas pendidikan yang dibangun oleh perkebunan kelapa sawit tersebut, juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Fenomena tersebut juga diungkapkan dalam studi Edward (2019) terkait banyaknya sekolah yang dibangun pada kabupaten sentra sawit dan sebagian besar fasilitas pendidikan tersebut bukan sekolah negeri (yang dibangun pemerintah).
Berbagai studi empiris (Rist et al., 2010; PASPI, 2014; Budidarsono et al., 2012; Syahza et al., 2020) mengungkapkan bahwa perkebunan kelapa sawit berkontribusi pada ketersediaan fasilitas pendidikan. Hasil temuan tersebut juga terkonfirmasi pada studi Santika et al. (2019) yang mengemukakan bahwa pembangunan infrastruktur sekolah mengalami peningkatan di Desa Sawit dibandingkan di Desa Non-Sawit.
Selain membangun fasilitas pendidikan di dalam kawasan perkebunan, perusahaan perkebunan kelapa sawit juga membantu fasilitas pendidikan masyarakat sekitar. Studi empiris (Suwandi et al., 2013; Pambudi et al.,2017; Satria, 2017; Pasaribu, 2019; Fajrin dan Anshari, 2019; Syahrida et al., 2019; Baihaqi et al., 2020) mengungkapkan bahwa perusahaan perkebunan kelapa sawit memberikan bantuan untuk pembangunan/renovasi infrastruktur sekolah, alat peraga pendidikan, buku, komputer untuk sekolah, pemberian beasiswa untuk siswa yang berprestasi maupun tunjangan guru, rumah pintar/rumah belajar, dan penyediaan bus sekolah.
Mekanisme kedua yang menunjukkan kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam pendidikan yakni melalui peningkatan akses petani sawit terhadap berbagai jenjang pendidikan. Peningkatan pendapatan petani sawit mampu meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan (Rist et al., 2010; Alwarritzi et al., 2016; Kubitza et al., 2018; Edwards, 2019). Peningkatan pendapatan petani sawit meningkatkan kemampuan keluarga petani sawit untuk memperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik pada berbagai jenjang, termasuk level diploma/sarjana/magister (Syahza et al., 2021; Chrisendo et al., 2022).
Dana sawit yang bersumber dari pungutan ekspor (export levy) sawit yang dikelola oleh BPDPKS juga dimanfaatkan untuk program beasiswa anak-anak petani sawit yang menempuh jenjang pendidikan diploma/sarjana. Selama periode tahun 2015-2021, dana sawit yang tersalurkan untuk program beasiswa anak-anak petani mencapai Rp 186 miliar untuk 3,265 mahasiswa pada jenjang pendidikan D1, D3, dan D4 (BPDPKS, 2022).
Uraian di atas menunjukkan bahwa industri sawit berkontribusi dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan. Dua mekanisme peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang dihela oleh industri sawit yakni melalui pembangunan fasilitas pendidikan berbagai jenjang (availability) dan peningkatan kemampuan masyarakat untuk menjangkau berbagai jenjang pendidikan (affordability).
Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4