Minyak sawit tidak mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan (Mitos 5-05)
Senyawa bioaktif (sebagian menyebutnya sebagai fitonutrient atau mikronutrient) merupakan zat nutrisi yang penting bagi kesehatan. Minyak sawit merupakan salah satu sumber pangan yang kaya senyawa bioaktif (Tabel 4) seperti karoten, tocopherols dan tocotrienols, fitosterol, squalene, co-enzym Q10, phenolics, ubiquinone, dan komponen minor lainnya (Goh et al., 1985; Tay et al., 2000; Berger, 2007; Kumar dan Krishna, 2014).
Salah satu senyawa bioaktif yang konsentrasinya terbanyak setelah vitamin E (tocols) dan vitamin A (karotenoid) adalah fitosterol (phystosterols). Fitosterol adalah sterol nabati (berasal dari tanaman nabati) yang strukturnya mirip kolesterol (Pateh et al., 2009). Fitosterol bermanfaat bagi kesehatan karena dapat mengurangi kadar kolesterol plasma darah dan meningkatkan ekskresi kolesterol (Miettinen et al., 2000; Zadak et al., 2006; Silalahi, 2006), cardio-protective effects (Hariyadi, 2020), serta dapat mencegah penyakit kanker (Awad dan Fink, 2000). Bahkan European Journal of Clinical Nutrition tahun 2009 menyebutkan bahwa fitosterol dapat mencegah beberapa jenis kanker seperti kanker paru, kanker ovarium, dan kanker usus (Fauziati et al., 2019).
Squalene merupakan salah satu komponen senyawa bioaktif yang ditemukan pada minyak sawit (Kelly, 1999). Konsumsi squalene dapat bermanfaat bagi tubuh untuk melindungi jantung, menghambat sintesis kolesterol, dan bersifat anti-cancer (Longganathan et al., 2010). Saat ini, squalene juga banyak digunakan pada berbagai produk skincare karena dapat melembabkan kulit khususnya bagi kulit sensitif, meningkatkan nutrisi pada sebum kulit, dan memperbaiki kerusakan kulit akibat sinar UV (Sinaga, 2021). Selain itu, squalene juga bersifat antioksidan, antiradang, bahkan antitumor sehingga efektif untuk melawan kerusakan kulit dari radikal bebas, mampu meregenerasi kulit, serta dapat mengatasi kulit berjerawat dan berminyak.
Co-enzyme Q10 atau ubiquinone juga menjadi salah satu komponen senyawa bioaktif yang terkandung dalam minyak sawit. Meskipun komposisinya dalam minyak sawit relatif kecil yakni hanya 10-80 ppm, namun Co-enzyme Q10 ini memiliki kemampuan antioksidan 10 kali lebih besar dibandingkan vitamin E (Ng et al., 2006). Dengan kemampuannya tersebut menjadikan senyawa bioaktif ini memiliki sifat anti-cancer (Portakal et al., 2000) dan juga memiliki manfaat bagi kesehatan kulit seperti mengurangi kerutan, serta mampu mengatasi inflamasi dan penuaan kulit, sehingga banyak digunakan pada produk skincare (Sinaga, 2021).
Komponen senyawa bioaktif lainnya yang terkandung dalam minyak sawit adalah fospolipid dan polifenol. Komposisi fospolipid dalam minyak sawit relatif kecil namun memiliki manfaat kesehatan yang besar seperti berperan dalam pengembangan otak (Suzuki et al., 2000) untuk meningkatkan memori dan mencegah penurunan fungsi otak akibat usia (Jager et al., 2007). Sementara itu, kandungan antioksidan yang tinggi pada polifenol bermanfaat untuk mencegah kanker (Nair et al., 2004; Fink et al., 2007).
Uraian di atas menunjukkan bahwa minyak sawit mengandung berbagai senyawa bioaktif yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Senyawa bioaktif tersebut dapat dikonsumsi ketika mengkonsumsi minyak sawit. Artinya masyarakat konsumen dapat menikmati manfaat tambahan dari senyawa bioaktif secara gratis ketika mengkonsumsi minyak sawit.
Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4
