Sawit mengandung asam lemak trans (trans-fatty acids) (Mitos 5-07)
Asam lemak trans (trans-fatty acid) mempunyai dampak yang merugikan kesehatan manusia (FAO, 2010). Konsumsi minyak yang mengandung asam lemak trans akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan obesitas (Ascherio et al., 1996; Hu et al., 1997; Mozaffarian et al., 2006). Oleh karena itu, lembaga/organisasi kesehatan di seluruh negara, khususnya negara-negara Barat, telah merekomendasikan untuk mengkonsumsi seminimal mungkin bahkan melarang penggunaan asam lemak trans dalam bahan makanan.
Asam lemak trans terbentuk selama proses hidrogenisasi untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak nabati dalam pembuatan minyak makan (edible oil). Proses hidrogenisasi (khususnya hidrogenisasi parsial) akan menyebabkan terjadinya perubahan konfirgurasi asam lemak tidak jenuh dari cis ke trans (Hariyadi, 2010).
Minyak nabati yang memiliki komposisi asam lemak tak jenuh ikatan rangkap jamak (polyunsaturated) seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak jagung yang cenderung cair pada suhu ruangan, memerlukan proses hidrogenisasi untuk mendapatkan sifat semi-solid sehingga spesifikasinya sesuai dengan kebutuhan industri produk pangan untuk memproduksi produk pangan seperti margarin/mentega, shortening serta produk roti (MPOC, 2016). Oleh karena itu, pengolahan minyak nabati dengan komposisi asam lemak tersebut melalui proses hidrogenisasi yang kemudian memicu adanya kandungan asam lemak trans pada minyak nabati tersebut. Hariyadi (2010) mengungkapkan bahwa kandungan asam lemak trans pada minyak kedelai yang mengalami proses hidrogenisasi mencapai angka 13-30 persen.
Berbeda dari minyak nabati lainnya, minyak sawit yang secara alamiah memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bersifat semi-solid dengan titik leleh berkisar antara 33–39oC sehingga tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunaannya sebagai lemak makanan. Hal ini berarti bahwa asam lemak trans tidak terbentu sehingga minyak sawit bebas dari asam lemak trans (Otero, 1997; Hariyadi, 2010).
menggantikan minyak nabati terhidrogenisasi yang mengandung asam lemak trans (Hariyadi, 2010; May dan Nesaretnam, 2014; Giriwono dan Andarwulan, 2016).
Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4