Minyak goreng sawit berbahaya bagi kesehatan karena kandungannya, bukan karena cara penggunaannya yang salah (Mitos 5-13)
Sebagian besar minyak goreng yang diperdagangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia merupakan minyak goreng sawit. Secara alamiah, minyak sawit memiliki banyak keunggulan. Minyak sawit memiliki keunggulan dari aspek gizi dan nutrisi yang seimbang.
Keunggulan sifat fisik dan kimiawi seperti tingkat stabilitas oksidatif yang tinggi, stabil pada temperatur tinggi, titik asap tinggi, tidak mudah tengik sehingga awet dalam penyimpanan, penyerapan minyak rendah pada makanan, tidak berbau, dan beraroma netral (Hariyadi, 2010; MPOC, 2018) telah menjadikan minyak sawit sebagai minyak goreng terbaik yang dapat digunakan baik pada proses menggoreng (deep frying) atau menumis (sauteing).
Namun sangat disayangkan dibalik keunggulannya tersebut, persepsi dan mitos negatif terkait bahaya mengkonsumi minyak goreng sawit telah mengakar kuat. Informasi menyesatkan ditambah dengan framing media berhasil membentuk persepsi negatif konsumen global terhadap minyak goreng sawit karena dianggap meningkatkan kolesterol sehingga memicu penyakit kronis seperti kardiovaskuler, kanker, diabetes, dan obesitas.
Persepsi negatif dan mitos tersebut harus diluruskan dengan fakta bahwa bukan minyak goreng sawit yang berbahaya, melainkan cara penggunaan minyak goreng sawit yang salah. Penggunaan minyak goreng sawit yang berulang pada suhu tinggi (160-180 derajat celcius) memicu reaksi oksidasi sehingga menyebabkan penurunan kualitas minyak goreng sawit yang ditunjukkan dengan berbau tengik hingga membentuk radikal bebas yang membahayakan kesehatan (Ketaren, 1986; Retno, 1995; Husnah dan Nurlela, 2020; Sinaga, 2021). Penggunaan minyak goreng sawit yang berulang tersebut menyebabkan penurunan nilai gizi (Zahra et al., 2013).
Uraian di atas menunjukkan bahwa dari segi kandungan gizi, minyak goreng sawit merupakan bahan pangan yang sehat. Namun jika penggunaannya tidak tepat, misalnya menggunakan minyak goreng sawit berulang-ulang (minyak jelantah/Used Cooking Oil), selain menurunkan nilai gizi juga berpotensi merugikan kesehatan. Oleh karena itu, menggunakan minyak goreng sawit secara tepat guna, perlu menjadi salah satu bahan edukasi publik agar publik dapat menikmati keunggulan gizi minyak goreng sawit.
Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4