Benarkah Sawit Tidak Bermanfaat & Tidak Punya Peran, Di Masa Pandemi Covid-19?

Minyak sawit tidak memiliki manfaat dalam menjaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 (Mitos 5-17)

Pandemi Covid-19 merupakan suatu krisis yang dihadapi oleh seluruh masyarakat dunia pada abad ke-21. Virus Covid-19 dan variasinya menyebabkan kematian jutaan orang di berbagai negara. Jumlah kasus virus Covid-19 di seluruh dunia juga masih terus terkonfirmasi. Hal ini menunjukkan bahwa virus tersebut masih berada di sekitar kita.

Masyarakat dunia harus menerima keberadaan virus Covid-19 dan variasinya sebagai bagian dari kehidupan, namun tetap berupaya untuk beradaptasi agar tetap produktif. Bentuk adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat dunia di era New Normal diantaranya adalah dengan melakukan vaksin serta menjaga kesehatan dan imunitas tubuh melalui konsumsi makanan yang bergizi dan menjaga higenitas/kebersihan tubuh.

Industri sawit global dapat berperan bagi masyarakat dunia untuk beradaptasi di masa pandemi Covid-19. Peran tersebut ditunjukkan melalui produksi produk pangan yang bergizi dan produk toiletries berbasis sawit (PASPI Monitor, 2020m).

Aplikasi minyak sawit pada produk pangan dan kesehatan sangat luas seperti minyak goreng, margarin, hingga speciality fats dan suplemen/vitamin. Selain memenuhi asupan kalori, konsumsi produk pangan berbasis minyak sawit juga berperan untuk menjaga kesehatan khususnya di masa pandemi Covid-19. Hal ini dikarenakan kandungan karoten (vitamin A), tocopherols dan tocotrienols (vitamin E), serta komponen senyawa bioaktif lainnya pada minyak sawit dapat berperan sebagai antioksidan yang mampu melawan radikal bebas dan meningkatkan imunitas tubuh.

Raharjo (2021) mengungkapkan manfaat lain dari minyak sawit yang berkaitan dengan virus Covid-19. Asam palmitat khususnya pada minyak sawit merah memiliki komponen utama terdiri dari sekitar 60 persen senyawa fosfolipida yang melapisi dinding bagian dalam rongga alveoli paru-paru. Fospolipida tersebut menjaga kesehatan paru-paru karena berfungsi sebagai surfaktan yang dapat membantu memudahkan pertukaran gas (oksigen dan karbondioksida) dari rongga alveoli ke pembuluh darah atau sebaliknya. Jika seseorang terkena virus Covid-19, maka sel-sel alveoli dalam paru-paru tidak mampu memproduksi fosfolipida yang mengakibatkan terganggunya proses pertukaran gas tersebut. Oleh karena itu, penting untuk menjaga asupan asam palmitat dari makanan sehingga dapat menjaga kesehatan paru-paru.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) juga sedang melakukan penelitian terkait pengembangan produk/material baru bebasis minyak sawit untuk meningkatkan sistem imunitas sebagai pertahanan tubuh untuk melawan virus dan bakteri, termasuk virus Covid-19 (PASPI Monitor, 2020m). Penelitian tersebut memanfaatkan asam laurat yang terdapat dalam minyak inti sawit sebagai material imunomodulator untuk memodulasi sistem kekebalan tubuh sebagai tindakan preventif infeksi virus (Panjaitan, 2020).

Peran industri sawit dalam menghadapi pandemi Covid-19 ditunjukkan melalui produksi produk toiletries. Selain produk toiletries berbasis oleokimia sawit yang sudah dikenal publik (seperti sabun, deterjen, dan lain-lain), industri sawit juga berinovasi untuk menghasilkan hand sanitizer dan biodisinfektan yang banyak dibutuhkan untuk menjaga higenitas/kebersihan diri dan lingkungan di masa pandemi.

Penerapan protokoler kesehatan seperti rajin mencuci tangan serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi kebiasaan baru yang dilakukan oleh seluruh masyarakat di dunia ditengah pandemi. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan terhadap produk-produk toiletries berbasis oleokimia sawit (Hutabarat, 2021).

Uraian di atas menunjukkan peranan industri sawit menghasilkan produk pangan dan toiletries yang dibutuhkan oleh masyarakat global untuk beradaptasi di era pandemi Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa minyak sawit juga menjadi bagian solusi adaptasi New Normal.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 1054