Net Carbon Sink (NCS): Sawit Punya Potensi Besar Berikan Solusi!..

Industri sawit global bukan menjadi solusi untuk pencapaian Net Carbon Sink (NCS) (Mitos 6-11)

Diskusi terkait penurunan emisi global menjadi topik hangat pada beberapa waktu terakhir, terutama setelah pelaksanaan COP-26 Glassglow di awal November tahun 2021. Negara di dunia, termasuk Indonesia, menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Untuk mencapai target tersebut, semua sektor diharapkan dapat berkontribusi pada pencapaian Net Carbon Sink (NCS) tersebut.Industri sawit sebagai salah satu industri/sektor ekonomi yang penting baik bagi Indonesia maupun dunia, memiliki potensi menjadi sektor ekonomi yang berkontribusi pada pencapaian NCS (PASPI Monitor, 2021s). Perkebunan kelapa sawit secara alamiah lebih banyak menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi dibandingkan dengan melepas karbon dioksida ke atmosfer bumi sehingga berkontribusi untuk mencapai NCS. Selain itu, pemanfaatan bioenergi/biofuel sawit, misalnya biodiesel sawit, sebagai pengganti energi fosil dapat menghemat emisi karbon global ke atmosfer bumi.

Untuk memperbesar kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap pencapaian NCS masih dapat dilakukan melalui perbaikan tata kelola dan teknologi pengolahan. Aplikasi teknologi pengolahan yang dimaksud adalah penangkapan emisi pada Palm Oil Mill Effluent (POME) dengan teknologi Methane Capture. Selain itu, pemanfaatan energi biomassa sawit sebagai pengganti energi fosil pada CPO-Mill serta penggunaan pupuk organik dan hayati sebagai pengganti pupuk anorganik. Teknologi yang demikian dapat menurunkan emisi GRK pada perkebunan kelapa sawit.

Berbagai studi (Yee et al., 2009; Matthews dan Ardianto, 2015; Seng dan Tamahrajah, 2021; Vicenza, 2021) menunjukkan bahwa perbaikan tata kelola dan optimalisasi Good Agricultural Practices (GAP) pada perkebunan kelapa sawit serta teknologi pengolahan pada CPO-Mill mampu menurunkan emisi GRK secara signifikan (Gambar 13).

Pada kondisi (A), dimana perkebunan kelapa sawit tidak menerapkan GAP secara penuh, tidak menggunakan teknologi methane capture untuk pengolahan POME, dan menggunakan energi pada CPO-Mill yang bersumber dari energi eksternal (listrik, diesel fosil) menghasilkan emisi karbon dioksida yang relatif cukup besar mencapai 2.94 ton CO2 eq per ton CPO.

Penurunan emisi yang sangat signifikan terjadi pada kondisi (E), dimana perkebunan kelapa sawit telah menerapkan GAP secara penuh, aplikasi teknologi methane capture, serta pemanfaatan biogas dan biomassa sawit sebagai sumber energi pada CPO-Mill. Kondisi tersebut menghasilkan emisi karbon yang sangat rendah yakni hanya sebesar 0.07 ton CO2 eq per ton CPO.

Studi tersebut menunjukkan bahwa aplikasi teknologi berupa implementasi GAP, teknologi methane capture, serta penggunaan biomassa sawit dan biogas POME sebagai sumber energi bagi CPO-Mill, mampu menurunkan emisi sekitar 96 persen. Sehingga jika emisi ini digabungkan dengan kemampuan carbon sink pada hasil neto fotosintesis, maka akan semakin memperbesar kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap pencapaian target NCS.

Besaran carbon sink tersebut juga masih dapat ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas (PASPI Monitor, 2021b). Hasil studi Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) mengungkapkan bahwa peningkatan produktivitas minyak sawit global sebesar 54 persen, dapat menurunkan emisi perkebunan kelapa sawit global sebesar 35 persen. Peningkatan produktivitas akan menurunkan beban emisi baik melalui peningkatan carbon sink pada proses fotosintesis maupun menurunkan carbon source per ton minyak yang dihasilkan.

Dengan demikian, industri sawit memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pencapaian NCS. Penerapan GAP, teknologi methane capture, pemanfaatan energi biogas dan biomassa sawit, serta peningkatan produktivitas kebun, yang sedang dilaksanakan pada perkebunan kelapa sawit dapat memastikan industri sawit menjadi bagian solusi dari pencapaian NCS.

Referensi :

  • Beyer RM, AP Durán, TT Rademacher, P Martin, C Tayleur, SE Brooks, D Coomes, PF Donald, FJ Sanderson. 2020. The Environmental Impacts of Palm Oil and Its Alternatives. Environmental Science bioRxiv. https://doi.org/10.1101/2020.02.16.951301
  • Beyer RM, Rademacher T. 2021. Species Richness and Carbon Footprints of Vegetable Oils: Can High Yields Outweigh Palm Oil’s Environmental Impact? Sustainability. 13: 1813. https://doi.org/10.3390/su13041813.
  • Mathews J, Ardiyanto A. 2015. Estimation of Greenhouse Gas Emissions for Palm Oil Biodiesel Production: A Review and Case Study within the Council Directives 2009/28/Ec of the European Parliament. Journal of Oil Palm, Environment and Health. 6:25-41. http://dx.doi.org/10.5366/jope.2015.03
  • PASPI Monitor. 2021s. Palm Oil Industry Will Become A Net Carbon Sink. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(47): 575-580.
  • Seng QK, J Tamahrajah. 2021. My Say: The Palm Oil Industry Can Be Net-Zero Carbon by 2040. Edge Malaysia Weekly. Tersedia pada: https://www.theedgemarkets.com/article/my-say-palm-oil-industry- can-be-netzero-carbon-2040
  • Vincenza M. 2021. The Environmental Impacts of Palm Oil and Main Alternative Oils. Euro-Mediterranean Centre on Climate Change (CMCC).
  • Yee KF, KT Tan, AZ Abdullah, KT Lee. 2009. Life Cycle Assessment of Palm Biodiesel: Revealing Facts and Benefits for Sustainability. Applied Energy. 86:189–196. https://doi.org/10.1016/j.apenergy.2009.04.014

 

Post View : 1517