Perkebunan kelapa sawit di lahan gambut meningkatkan emisi GRK (Mitos 6-20)
Aktivitas pembangunan dan pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut mendapatkan kritikan tajam dari NGO dan pegiat lingkungan nasional maupun internasional. Pegiat lingkungan tersebut beranggapan bahwa pembukaan areal lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit hingga proses budidaya sawit akan berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), mengingat lahan gambut kaya carbon stock. Mereka juga menuduh bahwa perkebunan kelapa sawit di lahan gambut Indonesia dan Malaysia sebagai kontributor (emitter) yang menyumbang emisi karbon yang besar (PASPI Monitor, 2020n).
Kehadiran perkebunan kelapa sawit di lahan gambut justru menjadi bagian dari restorasi gambut yang berkelanjutan karena mengadopsi budidaya lahan gambut yang berkelanjutan. Pemanfaatan gambut tergantung pada pengelolaan air. Gambut terbentuk dalam suasana anaerob (reduktif). Bila dibuka dan dibuat saluran drainase maka lapisan gambut di bagian atas menjadi bersifat aerob (oksidatif) dan mudah terdekomposisi menghasilkan CO2 yang teremisikan ke udara sebagai emisi CO2 netto. Emisi CO2 tersebut dapat ditekan dengan cara mempertahankan gambut di lapisan atas yang selalu dalam keadaan lembab (Marwanto et al., 2019).
Total CO2 yang diemisikan dari permukaan lahan berasal dari respirasi autotrof (respirasi akar) dan respirasi heterotrof. Besaran CO2 yang dilepaskan dari respirasi akar sangat tergantung pada umur tanaman. Untuk tanaman kelapa sawit yang berumur 6 tahun, CO2 yang berasal dari respirasi akar sekitar 30 persen (Dariah et al., 2014) dari total respirasi tanah.
Sedangkan untuk tanaman kelapa sawit yang berumur 14-15 tahun, CO2 yang dilepaskan dari respirasi sekitar 74 persen (Sabiham et al., 2014). Total CO2 yang diemisikan dari permukaan tanah sebagian besar diserap kembali oleh tanaman, sisanya diemisikan ke atmosfer sebagai emisi CO2 neto. Jumlah CO2 yang diserap kembali oleh tanaman lebih besar dari jumlah CO2 yang dilepaskan dari respirasi akar.
Perkebunan kelapa sawit mampu menghasilkan volume stok biomassa dan stok karbon pada lahan gambut seiring dengan meningkatnya umur tanaman (Chan, 2002). Senada dengan studi tersebut, studi Sabiham (2013) menunjukkan bahwa stok karbon bagian atas lahan gambut makin meningkat seiring dengan makin bertambahnya umur tanaman kelapa sawit. Stok karbon pada hutan gambut sekunder mencapai 57.3 ton per hektar, sementara stok karbon pada perkebunan kelapa sawit berumur 14-15 tahun mencapai 73 ton per hektar.
Sementara itu, black campaign yang selama ini disebarkan oleh NGO anti sawit yang menuduh alih fungsi lahan gambut untuk budidaya perkebunan kelapa sawit dapat menyebabkan peningkatan emisi GRK adalah tuduhan yang keliru. Justru sebaliknya, berdasarkan berbagai penelitian mengungkapkan bahwa pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dengan tata kelola yang baik, ternyata dapat menurunkan emisi (fluxes) lahan gambut.
Emisi GRK hutan gambut sekunder (degraded peat land) berkisar 127 ton CO2/hektar/tahun (Hadi et al., 2001). Dengan menanam kelapa sawit di lahan gambut, emisi GRK berkurang menjadi 31-58 ton CO2/hektar/tahun (Murayama dan Baker, 1996; Melling et al., 2005, 2007; Hooijer et al., 2006; Germer dan Sauaerborn, 2008; Melling dan Henson, 2009). Artinya merubah hutan gambut sekunder menjadi perkebunan kelapa sawit dapat menurunkan emisi CO2.
Penelitian lebih detail dilakukan oleh IPB University (Sabiham et al., 2021) mengukur emisi CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut pada musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau, emisi CO2 sebesar 16.1 ton CO2/hektar/tahun, sedangkan CO2 yang diserap tanaman sebesar 60.6 ton CO2/hektar/tahun sehingga Net Carbon Sink (NCS) pada musim kemarau sebesar 54.6 ton CO2/hektar/tahun.
Pada musim hujan, emisi CO2 yang dilepaskan ke atmosfer dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut sebesar 20.4 ton CO2/hektar/tahun. Sedangkan CO2 yang diserap kelapa sawit pada musim hujan sebesar 23.7 ton CO2/hektar/tahun. Dengan demikian, NCS perkebunan kelapa sawit di lahan gambut pada musim hujan sebesar 3.3 ton CO2/hektar/tahun.
Fakta – fakta empiris tersebut menjadi bukti bahwa tuduhan pihak anti sawit terhadap perkebunan kelapa sawit di lahan gambut adalah tidak benar. Kehadiran perkebunan kelapa sawit di lahan gambut tidak menyebabkan peningkatan emisi GRK gambut. Bahkan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut adalah Net Carbon Sink.
Referensi :
- Chan CK. 2002. Oil Palm Carbon Sequestration and Carbon Accounting: Our Global Strength. Dipresentasikan pada seminar R&D for competitive edge in the Malaysian Oil Palm Industry Malaysian Palm Oil Association (MPOA).
- Dariah A, S Marwanto, F Agus. 2014. Root and Peat-Based CO2 Emission from Oil Palm Plantation. Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change. 19(6):831-843. https://doi.org/doi 10.1007/ s11027-013- 9515-6
- Hadi A, Haridi M, Inubushi K, Purnomo E, Razie F and Tsuruta H. 2001. Effects of Land-Use Change on Tropical Peat Soil on the Microbial Population and Emission of Greenhouse Gases. Microbes and Environments. 16(2): 79-86. https://doi.org/10.1264/jsme2.2001.79
- Hooijer A, Silvius M, Worsten H. Page S. 2006. Peat CO2 Assesment of CO2 Emmission from Drained Peatland in SE Asia. Delf Hydraulics Report Q39. Tersedia pada: http://np-net.pbworks.com/f/Hooijer,%20Silvius%20et%20al%20(2006)%20PEAT%20CO2%20Assement%20of%20CP2%20emissions%20from%20d rained%20wetlands%20in%20SE%20Asia.pdf
- Marwanto S, Sabiham S, Funakawa S. 2019. Importance of CO2 Production in Subsoil Layers of Drained Tropical Peatland Under Mature Oil Palm Plantation. Soil and Tillage Research. 186: 206-2013. http://dx.doi.org/10.1016/j.still.2018.10.021
- Melling L, Goh KJ, Hatanto R. 2007. Comparison Study Between GHG Fluxes from Forest and Oil Palm Plantation on Tropical Peat Land of Serawah Malaysia. Dipresentasikan pada International on Oil Palm and Environment di Bali, Indonesia.
- Melling L, Hatano R, Goh KJ. 2005. Soil CO2 Flux from Ecosystem in Tropical Peat Land of Serawak. Malaysia. Tellus B: Chemical and Physical Meterology. 57(1): 1-11. https://doi.org/10.3402/tellusb.v57i1.16772
- Murayama S, Baker ZA. 1996. Decomposition of Tropical Peat Soils. Decomposition Kinetic of Organic Matter of Peat Soils. Japan Agricultural Research. 30: 145-151.
- PASPI Monitor. 2020n. Utilization of Peatland Indonesia Vs Europe. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(11): 61-68.
- Sabiham S, Marwanto S, Watanabe T, Funakawa S, Sudadi U, Agus F. 2014. Estimating the Relative Contributions of Root Respiration and Peat Decomposition to the Total CO2 Flux from Peat Soil at an Oil Palm Plantation in Sumatra, Indonesia. Tropical Agriculture and Development. 58(3):87-93.
- Sabiham S. 2013. Sawit dan Lahan Gambut dalam Pembangunan Kebun Kelapa Sawit di Indonesia. Bogor (ID): Himpunan Gambut Indonesia.
