Kelapa Sawit & Deforestasi Global: Coba Lihat Data Ini!

Kelapa sawit merupakan komoditas driver utama deforestasi global (Mitos 6-15)

Perkembangan perkebunan kelapa sawit dunia yang relatif cepat dan tergolong revolusioner (Byarlee et al., 2016), telah memicu tuduhan bahwa kelapa sawit adalah driver utama deforestasi global (Wicke et al., 2008; Vijay et al., 2016; European Parlement, 2017). Pengaitan perkebunan kelapa sawit dengan deforestasi bahkan telah menjadi argumen proteksionisme gaya baru dalam perdagangan minyak sawit dan produk turunannya yang dilakukan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Studi European Commission (2013) menunjukkan bahwa top-4 driver deforestasi global pada periode tahun 1990-2008 adalah :

  • Sektor pertanian (54 persen),
  • bencana alam (17 persen),
  • pembangunan rumah infrastruktur (4 persen),
  • dan industri (2 persen)

Komposisi driver deforestasi global tersebut konsisten dengan sejarah dan driver deforestasi dunia, dimana kebutuhan ruang untuk produksi pangan dan perumahan menjadi driver utama deforestasi global.

Hasil studi European Commission terkonfirmasi dalam laporan FAO (2016) yang menyebutkan bahwa sektor pertanian masih menjadi penyebab (driver) yang signifikan terhadap deforestasi global. Hal serupa juga disebutkan pada studi Kissinger et al. (2012) mengungkapkan bahwa penyebab langsung (direct driver) deforestasi yang utama adalah ekspansi pertanian, aktivitas logging dan produksi kayu, urbanisasi, serta kegiatan pertambangan.

Diantara komoditas sektor pertanian yang berhasil teridentifikasi (di luar natural disaster dan unexplained factor), komoditas pertanian yang menjadi driver deforestasi dunia periode tahun 1990-2008 (Gambar 5) adalah peternakan (24 persen), serealia (8 persen), kedelai (6 persen), roots pulses (4 persen), dan tanaman lainnya (4 persen).

Dari segi komoditas, deforestasi terbesar terjadi untuk pengembangan pertanian/perkebunan tanaman serelia (8 persen) dan kedelai (6 persen). Sedangkan ekspansi perkebunan kelapa sawit dunia hanya 2 persen dari deforestasi global. Bahkan jika ditelusuri sejarah perkembangan empat minyak nabati utama dunia, menunjukkan bahwa deforestasi terbesar adalah untuk kedelai, kemudian disusul oleh rapeseed dan bunga matahari. Sedangkan perkebunan kelapa sawit hanya mengambil porsi yang relatif kecil.

Referensi

  • Byarlee D, WP Falcon, RL Naylor. 2016. The Tropical Oil Crops Revolution: Food, Feed and Forest. Oxford (UK): Oxford University Press.
  • European Commission. 2013. The Impact of EU Consumption on Deforestation: Comprehensive Analysis of the Impact of EU Consumption on Deforestation. Tersedia pada: https://ec.europa.eu/environment/forests/pdf/1.%20Report%20analy sis%20of%20impact.pdf
  • European Parlemen. 2017. Palm Oil and Deforestation Rainforest. Tersedia pada: https://www.europarl.europa.eu/doceo/document/TA-8-2017- 0098_EN.html
  • Kissinger G, M Herold, V De Sy. 2012. Drivers of Deforestation and Forest Degradation: A Synthesis Report for REDD+ Policymakers. Vancouver (CN): Lexeme Consulting. Tersedia pada: https://www.forestcarbonpartnership.org/sites/fcp/files/DriversOfDef orestation.pdf_N_S.pdf
  • Vijay V, Pimm LS, Jenkins CN, Smith SJ. 2016. The Impacts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss. Plos One. 11(7): 1-19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159668
  • Wicke B, Sikkema R, Dornburg V, Junginger M, Faaij A. 2008. Drivers of Land Use Change and The Role of Palm Oil Production in Indonesia and Malaysia: Overview of Past Developments and Future Projections Final Report. Science, Technology and Society Copernicus Institute for Sustainable Development and Innovation Utrecht University. Tersedia pada: http://np-net.pbworks.com/f/Wicke%2C+Faaij+et+al+%282008%29+Palm+oil+a nd+land+use+change+in+Indonesia+and+Malaysia%2C+Copernicus+In stitute.pdf
Post View : 1381