Kelapa Sawit & Dampaknya: Apakah Ia Pemicu Konversi Hutan di Indonesia?

Perkebunan kelapa sawit merupakan pemicu utama konversi hutan menjadi non-hutan di Indonesia (Mitos 6-29) 

Tudingan bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan pemicu utama konversi hutan menjadi non-hutan (deforestasi), telah banyak dilontarkan oleh para peneliti (Thiollay, 1999; Donald, 2004; Dumbrell dan Hill, 2005; Pacienca dan Prado, 2005; Benayas et al., 2007; Steveson dan Aldana, 2008; Koh dan Wilcove, 2008; Byarlee et al., 2016; Vijay et al., 2016).

Definisi hutan dan deforestasi masih menjadi perdebatan global. Perhitungan kapan dimulainya deforestasi, definisi deforestasi secara administrasi atau secara teknikal dan lain-lain, belum menjadi kesepakatan internasional. Faktanya hampir tidak ada negara di dunia yang melarang deforestasi secara eksplisit.

Deforestasi merupakan fenomena normal pembangunan yang terjadi di setiap negara-negara dunia sejak beribu tahun yang lalu hingga saat ini. Gelombang deforestasi mengikuti gelombang sejarah pembangunan di setiap negara. Di kawasan Eropa, deforestasi berlangsung sebelum abad ke-17. Sementara deforestasi di Amerika berlangsung tahun 1620 sampai tahun 1950. Kemudian di daerah tropis, deforestasi mulai berlangsung pada sekitar abad ke-19. Tidak satupun negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, yang tidak terkait dengan jejak deforestasi.

Di Indonesia, deforestasi telah berlangsung sejak zaman kolonialisme, baik pada masa kolonial Inggris, Belanda, maupun Jepang dan kemudian berlanjut ke masa pembangunan saat ini (PASPI, 2014; Santosa et al., 2020). Sebagaimana yang terjadi di setiap negara, konversi hutan menjadi non- hutan merupakan jalan untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi pembangunan. Pertumbuhan penduduk dan perluasan pembangunan di segala sektor khususnya untuk pemenuhan pangan, memerlukan tambahan ruang yang meningkat.

Luas daratan Indonesia sebesar 187.8 juta hektar. Sebelum tahun 1950 (termasuk masa kolonial), luas deforestasi telah mencapai 25.5 juta hektar (Gambar 7). Luas hutan di Indonesia pada tahun 1950 adalah 162.3 juta hektar. Kemudian terjadi deforestasi seluas 68.1 juta hektar selama kurun waktu 1950-1985. Sementara itu, perluasan perkebunan kelapa sawit pada periode yang sama hanya sekitar 0.6 juta hektar atau hanya 0.9 persen dari luas deforestasi periode tersebut.

Deforestasi di Indonesia telah dimulai sejak masa pemerintahan kolonial dan semakin intensif terjadi di masa Orde Baru (PASPI Monitor, 2020c). Pada masa Orde Baru (tahun 1969-2000), Kementerian Kehutanan banyak memberikan izin logging yang masif tanpa kontrol tercermin dari jumlah dan luas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang diberikan kepada perusahaan logging (Pagiola, 2000; Kartodihardjo dan Supriono, 2000). Luas HPH pada masa Orde Baru yang tercatat mencapai 61.7 juta hektar tahun 1993 dan 69.4 juta hektar tahun 2000 (Kementerian Kehutanan, 2014). Sedangkan kegiatan logging yang tak tercatat diperkirakan sekitar 95 juta hektar hutan produksi (yang ditetapkan oleh TGHK, 1984) telah menjadi areal logging selama masa Orde Baru.

Seiring dengan kebutuhan ruang yang meningkat, konversi kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan di Indonesia secara akumulasi juga meningkat menjadi seluas 106.2 juta hektar dalam kurun waktu 1950-2020. Salah satu pengguna areal ex-HPH adalah untuk pengembangan pemukiman dan pertanian dalam program transmigrasi (Tjondronegoro, 2004).

Dengan demikian sampai dengan tahun 2020, konversi hutan menjadi non-hutan di Indonesia telah mencapai 106.2 juta hektar, atau sekitar 57 persen dari total luas daratan Indonesia. Sementara pada periode yang sama, Statistik Perkebunan Kelapa Sawit mencatat luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia baru seluas 14.9 juta hektar (Kementerian Pertanian, 2021). Artinya dari 106.2 juta hektar deforestasi yang terjadi, areal yang menjadi perkebunan kelapa sawit hanya 14 persen. Dan sisanya yakni 86 persen menjadi areal pertanian lainnya, pemukiman dan perkotaan, infrastruktur, dan lain-lain. Perlu dicatat bahwa sebagian besar areal yang digunakan oleh perkebunan kelapa sawit tidak langsung dari konversi hutan, melainkan dari konversi hutan menjadi semak belukar atau degraded land, baru kemudian menjadi perkebunan kelapa sawit (Santosa, 2019; Roda, 2019).

Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bukanlah driver utama deforestasi di Indonesia. Penggunaan lahan daratan untuk perkebunan kelapa sawit sampai tahun 2020 hanya mencapai 14 persen dari total luas konversi hutan menjadi non-hutan sejak zaman kolonial sampai tahun 2020. Bahkan luas perkebunan kelapa sawit Indonesia hanya 8 persen dari total luas daratan Indonesia.

Referensi

  • Byarlee D, WP Falcon, RL Naylor. 2016. The Tropical Oil Crops Revolution: Food, Feed and Forest. Oxford (UK): Oxford University Press.
  • Kartodihardjo H, A Supriono. 2000. Dampak Pembangunan Sektoral Terhadap Konversi dan Degradasi Hutan Alam; Kasus Pembangunan HTI dan Perkebunan di Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR). Tersedia pada: https://www.cifor.org/publications/pdf_files/OccPapers/OP-26i.pdf
  • Pagiola S. 2000. Land Use Change in Indonesia. World Bank. Tersedia pada: https://www.researchgate.net/publication/23748814_Land_Use_Chang e_in_Indonesia
  • [PASPI] Palm Oil Agribusiness Startegic Policy Institute. 2014. The Sustainability of Indonesian Palm Oil Industry Its role in: Economic Growth, Rural Development, Poverty Reduction, and Environmental Sustainability. Bogor: PASPI.
  • PASPI Monitor. 2020c. Indonesian Palm Oil Plantation Is Not A Deforestation Driver, But Reforestation Economic, Social, and Ecology in Abandoned Land. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(05): 25-30.
  • Santosa Y, Sunkar A, Kwatrina RT. 2020. Is it True that Oil Palm Plantations are the Main Driver of Indonesia’s Tropical Forest Deforestation? International Journal of Palm Oil. 3(1): 1-10. https://doi.org/10.35876/ijop.v3i1.37
  • Tjondronegoro SMP. 2004. From Colonization to Transmigration: Changing Policies in Population Resettlement. Kyoto (JP): Kyoto University Press and Trans-Pacific Press.
  • Vijay V, Pimm LS, Jenkins CN, Smith SJ. 2016. The Impacts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss. Plos One. 11(7): 1-19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159668
Post View : 2792