Dihantam Tarif AS, GAPKI Siapkan Langkah Jaga Ekspor Sawit RI

Jakarta – Kebijakan tarif impor sebesar 32% yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tekanan signifikan terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyoroti dampak langsung terhadap daya saing produk sawit di pasar global, khususnya Amerika Serikat yang selama ini merupakan pasar potensial dan terus bertumbuh.

Ketua umum GAPKI Eddy Martono melalui laman Corporate Insight Live dalam Channel BeritaSatu. 9/4/2025

Ekspor Sawit ke AS Terus Tumbuh

Dalam lima tahun terakhir, ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat menunjukkan tren peningkatan. Pada 2020, ekspor mencapai 1,5 juta ton dan meningkat menjadi 2,5 juta ton pada 2023, meskipun sempat sedikit menurun ke 2,2 juta ton pada 2024. Nilai ekspor tersebut diperkirakan mencapai USD 2,9 miliar, dengan pangsa pasar Indonesia di AS mencapai 89%.

“Minyak sawit menjadi bahan utama industri pangan di Amerika, seperti margarin, yang tidak bisa digantikan oleh minyak nabati lain karena isu kesehatan seperti lemak trans dari kedelai,” ujar Edi.

Dampak Tarif 32% dan Beban Ekspor

Pemberlakuan tarif 32% dari AS dipandang memberatkan posisi Indonesia dibandingkan pesaing seperti Malaysia yang hanya dikenakan tarif 24%. Selain itu, pelaku industri di Indonesia juga terbebani oleh tiga pungutan ekspor: DMO, PE, dan BK, yang totalnya mencapai USD 221 per metrik ton, lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang hanya USD 140 per ton.

“Kondisi ini membuat sawit Indonesia kurang kompetitif. Karena itu, kami meminta pemerintah untuk mempertimbangkan penurunan beban ekspor agar produk kita tetap menarik di pasar Amerika,” jelasnya.

Eddy menambahkan bahwa Indonesia juga menghadapi tantangan logistik, karena pengiriman dari Malaysia ke AS lebih dekat dibandingkan dari Indonesia.

Strategi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Eddy menyampaikan bahwa GAPKI telah berdiskusi dengan pemerintah, termasuk Kemenko Perekonomian dan Kementerian Keuangan. Ia mengapresiasi sinyal dari pemerintah untuk mereview pungutan ekspor sebagai langkah jangka pendek menjaga daya saing sawit Indonesia di pasar Amerika.

“Dalam jangka pendek, satu-satunya cara agar kita tetap kompetitif adalah menurunkan beban ekspor kita. Dalam jangka panjang, kita juga harus terus tingkatkan produktivitas,” katanya.

Upaya peningkatan produktivitas dilakukan melalui penggunaan serangga penyerbuk dari Tanzania dan penggunaan pupuk hayati untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor.

Diversifikasi Pasar dan Antisipasi Resesi Global

Eddy menegaskan pentingnya diversifikasi pasar, terutama mengantisipasi kemungkinan perang dagang lanjutan yang dapat mempengaruhi pasar lain seperti China dan Uni Eropa.

“Amerika Latin dan Afrika menjadi pasar alternatif yang sedang kami jajaki. Bahkan, bulan Mei nanti kita akan misi dagang ke Mesir untuk memperluas pasar,” ungkapnya.

Eddy juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap risiko resesi global yang bisa menekan permintaan ekspor secara umum, dan menegaskan pentingnya strategi yang tidak hanya reaktif terhadap AS, tetapi juga antisipatif terhadap dinamika global.

Optimisme dengan Dukungan Pemerintah

Menutup pernyataannya, Eddy menyatakan optimisme bahwa dengan langkah cepat dan dukungan kebijakan dari pemerintah, Indonesia tetap bisa mempertahankan bahkan meningkatkan ekspor minyak sawit ke AS.

“Saya meyakini kalau isu tarif ini bisa selesai, ekspor kita ke Amerika bisa terus tumbuh karena memang ini sudah menjadi kebutuhan industri pangan di sana,” pungkasnya. (*) Ringkasan melalui Corporate Insight, Live BeritaSatu: https://www.youtube.com/watch?v=1_MhejGalg0

Post View : 2391