WASPADA KEMARAU PANJANG! BMKG Resmi Keluarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 untuk Seluruh Indonesia

Sumber: Direktorat Perubahan Iklim, Deputi Bidang Klimatologi, BMKG — Maret 2026. Download

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah secara resmi merilis buku Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia. Dokumen yang diterbitkan pada Maret 2026 ini menjadi panduan penting bagi seluruh sektor — mulai dari pertanian, energi, sumber daya air, hingga kehutanan dan kebencanaan — dalam menghadapi potensi kemarau yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia.

Apa yang Perlu Diketahui?

La Nina Lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026. Kondisi ENSO kini berada pada fase Netral, dan diprediksi tetap netral hingga Juni 2026.

Poin-poin kunci dari prediksi BMKG antara lain:

  • Awal musim kemarau diprediksi maju (lebih awal) di 325 ZOM atau 46,5% wilayah Indonesia.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (451 ZOM atau 64,5%) diprediksi mengalami sifat kemarau bawah normal, yang berarti kondisi akan lebih kering dari biasanya.
  • Puncak kemarau di sebagian besar wilayah (429 ZOM atau 61,4%) diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026.
  • Durasi kemarau diprediksi lebih panjang dari normal di 400 ZOM atau 57,2% wilayah Indonesia.
  • Puncak musim kemarau diprediksi maju (lebih awal) di 410 ZOM atau 58,7% wilayah.

Ringkasan Prediksi Musim Kemarau 2026

Berdasarkan dokumen resmi BMKG, beberapa parameter utama dalam prediksi musim kemarau 2026 dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Awal musim kemarau terbanyak diprediksi terjadi pada periode April hingga Juni 2026, yang dimulai dari wilayah Nusa Tenggara.
  • Jika dibandingkan dengan kondisi normal, sekitar 46,5% wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami kemarau yang datang lebih awal.
  • Dari sisi sifat hujan selama musim kemarau, sekitar 64,5% wilayah diprediksi mengalami kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dari biasanya.
  • Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4% wilayah Indonesia.
  • Sementara itu, durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang dari normal di sekitar 57,2% wilayah Indonesia.

Faktor Pengendali: Mengapa Kemarau 2026 Lebih Ekstrem?

Prediksi musim kemarau 2026 tidak bisa dilepaskan dari dinamika atmosfer dan laut yang melingkupi Indonesia. BMKG memantau beberapa fenomena utama yang menjadi pengendali iklim nasional.

1. ENSO (El Nino Southern Oscillation)

Indeks ENSO pada Februari 2026 menunjukkan nilai -0,28, yang mengindikasikan kondisi Netral setelah sebelumnya berada pada fase La Nina Lemah sejak Oktober 2025. ENSO diprediksi tetap berada dalam kondisi netral hingga pertengahan tahun 2026.

Meskipun tidak ada El Nino aktif, kondisi netral ini tetap membuka peluang terjadinya kemarau yang lebih kering karena tidak adanya tambahan curah hujan signifikan dari pengaruh La Nina.

2. IOD (Indian Ocean Dipole)

Nilai Indeks Dipole Mode (DMI) sebesar +0,4 menunjukkan bahwa IOD berada dalam fase Netral. Pada kondisi IOD positif biasanya terjadi pengurangan curah hujan di wilayah barat Indonesia, namun dalam kondisi netral seperti saat ini dampaknya tidak terlalu signifikan.

3. Monsun Australia

Angin timuran atau Monsun Australia mulai memasuki wilayah Indonesia bagian selatan sejak Maret 2026 dan diprediksi akan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia mulai Juni 2026.

Fenomena monsun ini merupakan faktor utama yang memicu datangnya musim kemarau di wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

4. Suhu Permukaan Laut

Suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia pada Februari 2026 secara umum berada dalam kondisi normal hingga hangat, dengan anomali berkisar antara -0,5°C hingga +2,0°C.

Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga pertengahan tahun 2026 dan masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah.

Prediksi Musim Kemarau Per Wilayah

Awal Musim Kemarau

Musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak. Berdasarkan prediksi BMKG:

  • April 2026 diperkirakan sebanyak 114 ZOM (16,3%) mulai memasuki musim kemarau. Wilayah ini meliputi sebagian besar Pulau Jawa bagian utara, D.I. Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
  • Mei 2026 menjadi periode dengan wilayah terbanyak yang memasuki kemarau, yaitu 184 ZOM (26,3%), mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan bagian barat.
  • Juni 2026 diperkirakan sekitar 163 ZOM (23,3%) memasuki musim kemarau, termasuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, sebagian besar Kalimantan, serta sebagian Sulawesi.
  • Sementara itu, wilayah lain diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026, termasuk sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, serta Maluku.

Puncak Musim Kemarau

Puncak kemarau di Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan terjadi pada beberapa periode berikut:

  • Juli 2026, sebanyak 88 ZOM (12,6%), meliputi sebagian wilayah Sumatera, sebagian kecil Jawa, serta Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.
  • Agustus 2026, menjadi periode puncak kemarau terbesar dengan 429 ZOM (61,4%), meliputi sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, dan Maluku.
  • September 2026, sekitar 100 ZOM (14,3%), terjadi di wilayah Lampung, sebagian kecil Jawa, NTT, serta Sulawesi bagian timur dan utara.

Periode Juli hingga September 2026 diprediksi menjadi fase kritis terkait ketersediaan air karena bertepatan dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

Sifat Musim Kemarau

Distribusi sifat musim kemarau 2026 menunjukkan bahwa:

  • Sekitar 451 ZOM atau 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat kemarau bawah normal, yang berarti kondisi lebih kering dibandingkan rata-rata.
  • Sekitar 245 ZOM atau 35,1% wilayah diprediksi mengalami kondisi normal.
  • Hanya 3 ZOM atau sekitar 0,4% wilayah yang diprediksi mengalami kemarau atas normal, yaitu wilayah di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologi selama 30 tahun terakhir (periode normal 1991–2020).

Rekomendasi BMKG Per Sektor

Sektor Pertanian

Pulau Jawa sebagai sentra produksi padi nasional diperkirakan memasuki musim kemarau pada April hingga Mei 2026. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan beberapa langkah berikut:

  • Menyesuaikan jadwal tanam agar tanaman tidak memasuki fase kritis saat terjadi kekeringan.
  • Memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.
  • Mengelola air irigasi secara optimal dengan memanfaatkan sumur resapan dan kolam retensi.
  • Memanen air hujan selama periode transisi untuk menyimpan cadangan air.
  • Memantau secara dini potensi serangan hama dan penyakit tanaman, terutama pada awal hingga puncak kemarau.

Sektor Perkebunan

Wilayah perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan, termasuk Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Tengah, diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026 dengan durasi yang lebih panjang dari kondisi normal.

Ancaman utama yang perlu diwaspadai adalah kebakaran lahan akibat kekeringan serta peningkatan evapotranspirasi yang dapat mengganggu pertumbuhan dan produksi buah.

Sektor Sumber Daya Air

Dengan 64,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau bawah normal, ketersediaan air bagi kebutuhan rumah tangga berpotensi mengalami tekanan.

Langkah-langkah antisipasi yang direkomendasikan antara lain:

  • Membangun sumur resapan dan kolam penampungan air hujan di tingkat rumah tangga.
  • Menerapkan kebiasaan hemat air dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pemerintah dan PDAM perlu memastikan distribusi air bersih tetap berjalan, termasuk menyediakan suplai air melalui tangki untuk wilayah rawan kekeringan.
  • Berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Sektor Energi (Bendungan dan PLTA)

Periode Juli hingga September 2026 berpotensi menjadi fase kritis bagi ketersediaan air di bendungan dan pembangkit listrik tenaga air.

Strategi yang direkomendasikan meliputi:

  • Mengurangi pelepasan air untuk kebutuhan non-prioritas sejak akhir musim hujan guna meningkatkan cadangan tampungan.
  • Memantau muka air dan inflow bendungan secara real-time untuk mendeteksi potensi defisit lebih dini.
  • Mengatur prioritas penggunaan air berdasarkan tingkat urgensi dan dampak sosial ekonomi.
  • Memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola bendungan, dan operator PLTA.

Sektor Lingkungan dan Kualitas Udara

Percepatan awal musim kemarau berpotensi menyebabkan penurunan kualitas udara lebih awal dari tahun sebelumnya, baik akibat kebakaran hutan dan lahan maupun akumulasi polutan dari aktivitas perkotaan.

Langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Pemantauan kualitas udara secara real-time.
  • Penyediaan shelter udara bersih bagi kelompok rentan.
  • Sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.

Sektor Kehutanan dan Kebencanaan (Karhutla)

Periode Juli hingga September 2026 diprediksi menjadi fase paling kritis terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Papua bagian selatan.

Rekomendasi langkah antisipasi antara lain:

  • Mengoptimalkan teknologi pemantauan titik panas (hotspot) secara berkala.
  • Melakukan sosialisasi pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan kepada masyarakat dan pelaku usaha.
  • Memanfaatkan sistem peringatan dini berbasis informasi BMKG untuk mengantisipasi lonjakan hotspot menjelang puncak kemarau.
  • Meningkatkan patroli udara dan darat sejak Maret hingga September 2026.

Prediksi Musim Kemarau 2026 yang diterbitkan BMKG merupakan gambaran awal yang penting sebagai dasar perencanaan adaptasi di berbagai sektor. Kemarau yang diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih panjang dari normal menuntut kesiapan semua pihak — baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.


Informasi prediksi yang lebih lengkap, termasuk prediksi per Zona Musim (ZOM) di setiap provinsi, dapat diakses melalui situs resmi BMKG di www.bmkg.go.id atau dengan memindai kode QR pada sampul buku resmi Prediksi Musim Kemarau 2026.

Artikel ini disusun berdasarkan dokumen resmi BMKG:
Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia
Direktorat Perubahan Iklim, Deputi Bidang Klimatologi, BMKG — Jakarta, Maret 2026.

 

Post View : 15537