JAKARTA – Status Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia ternyata belum otomatis membuat Indonesia mampu menguasai penentuan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Harga CPO hingga kini masih bergerak mengikuti mekanisme pasar global yang dipengaruhi kondisi pasokan dan kebutuhan dunia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menjelaskan bahwa harga minyak sawit sangat dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari kondisi ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga situasi perdagangan internasional.
Menurutnya, sawit merupakan bagian dari perdagangan komoditas dunia sehingga pembentukan harganya tidak bisa ditentukan sepihak oleh satu negara saja, termasuk Indonesia.
“Pasar yang menentukan harga. Selama permintaan dan pasokan global berubah, harga juga akan ikut bergerak,” ujarnya.
Program Biodiesel Dinilai Jadi Penyangga Harga Sawit Nasional
Meski belum bisa menjadi pengendali harga dunia, Indonesia dinilai telah memiliki kebijakan yang cukup efektif untuk menjaga kestabilan harga sawit di dalam negeri, yakni melalui program mandatori biodiesel.
Kebijakan pencampuran biodiesel berbasis sawit ke bahan bakar solar dianggap berhasil meningkatkan penyerapan CPO domestik sehingga tekanan penurunan harga bisa ditekan. Program ini juga membantu menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani agar tidak jatuh terlalu dalam.
Eddy mengungkapkan, sebelum program biodiesel diterapkan, harga sawit pernah berada pada titik yang sangat rendah hingga tidak mampu menutup biaya produksi. Saat itu, banyak petani mengalami kerugian karena ongkos panen dan transportasi lebih tinggi dibandingkan hasil penjualan.
Karena itulah, keberadaan program biodiesel dianggap menjadi salah satu faktor penting yang membuat harga sawit nasional lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Persaingan dengan Minyak Nabati Lain Jadi Tantangan
Lebih lanjut, Eddy menilai upaya Indonesia untuk menjadi penentu utama harga sawit dunia tidak mudah dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah tingginya persaingan dengan berbagai minyak nabati lain di pasar internasional.
Selain minyak sawit, pasar global juga dipenuhi komoditas substitusi seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, rapeseed oil, hingga minyak jagung. Keberadaan produk-produk tersebut membuat konsumen dunia memiliki banyak pilihan ketika harga salah satu komoditas mengalami kenaikan.
Akibatnya, harga CPO tetap harus mengikuti dinamika perdagangan minyak nabati global secara keseluruhan.
Prabowo Ingin Indonesia Lebih Berdaulat dalam Penentuan Harga Sawit
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan keinginannya agar Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam perdagangan sawit internasional.
Dalam pidatonya di sidang paripurna DPR RI terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027, Prabowo menyoroti dugaan adanya praktik under invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.
Menurut Presiden, praktik tersebut berpotensi membuat nilai ekspor sawit Indonesia terlihat lebih kecil dibandingkan data impor negara tujuan.
Prabowo juga menilai sudah saatnya Indonesia memiliki keberanian untuk menentukan harga sawit sendiri sebagai negara produsen terbesar dunia.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin meningkatkan kedaulatan perdagangan sawit nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global.
Sawit Tetap Jadi Andalan Ekonomi Indonesia
Di tengah tantangan pasar global, industri sawit masih memegang peran penting bagi perekonomian nasional. Selain menjadi sumber devisa, sektor ini juga menyerap jutaan tenaga kerja dan mendukung pengembangan energi baru terbarukan melalui program biodiesel.
Ke depan, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar dunia, tetapi juga memperkuat daya tawar agar industri sawit nasional memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga di pasar internasional. (*)