J100: Mimpi Pesawat Terbang Penuh Bahan Bakar Sawit Indonesia

Setelah solar (D100) dan bensin (G100), giliran pesawat terbang yang punya versi bahan bakar 100% sawitnya sendiri — namanya J100. Kalau kamu sudah baca soal bioavtur yang sempat dipakai terbang Garuda Indonesia beberapa tahun lalu, J100 ini adalah “level selanjutnya” dari pencapaian tersebut. Yuk kita bahas apa itu J100 dan sejauh mana perkembangannya.

Apa Itu J100?

J100 adalah bahan bakar avtur (bahan bakar pesawat) yang 100% terbuat dari minyak sawit, tanpa campuran avtur fosil sama sekali. Namanya juga sering disebut green jet avtur atau avtur biohidrokarbon.

Ini berbeda dari bioavtur J2.4 yang sudah lebih dulu berhasil diuji terbang di Indonesia — J2.4 itu artinya campuran 2,4% bahan bakar nabati dengan 97,6% avtur fosil biasa. Jadi kalau J2.4 masih “sedikit” sawitnya, J100 adalah versi penuhnya: seluruhnya dari sawit.

Bahan Bakunya Unik: Bukan dari Daging Buah, Tapi dari Inti Sawit

Menariknya, J100 tidak menggunakan CPO (minyak dari daging buah sawit) seperti D100 dan G100. Bahan bakunya adalah RBDPKO — minyak inti sawit (kernel) yang sudah dimurnikan. Jadi kalau CPO itu diambil dari daging buah sawit yang berwarna oranye-kemerahan, J100 justru memanfaatkan bagian inti/biji di dalamnya.

Bagian dari “Trio” Bahan Bakar Sawit Murni

J100 adalah salah satu dari tiga bahan bakar biohidrokarbon murni yang tengah dikembangkan pemerintah bersama Pertamina, yaitu:

  • D100 — pengganti solar, sudah berhasil diproduksi di Kilang Dumai
  • G100 — pengganti bensin, masih tahap uji coba di Kilang Plaju
  • J100 — pengganti avtur pesawat, dari minyak inti sawit

Ketiganya sama-sama memanfaatkan teknologi Katalis Merah Putih, buatan asli anak bangsa dari kolaborasi Pertamina Research and Technology Centre dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejauh Mana Perkembangannya?

Pemerintah lewat Kementerian ESDM menggandeng Pertamina untuk mengembangkan bahan bakar hijau ini di kilang-kilang yang berlokasi di sentra produksi sawit — baik dengan cara “menyuntikkan” bahan baku sawit ke proses pengolahan kilang yang sudah ada, maupun dengan membangun kilang baru khusus untuk bahan bakar hijau di masa depan.

Sejauh ini, pencapaian yang sudah terealisasi dan terbukti bisa dipakai terbang adalah bioavtur J2.4. Sementara J100 sebagai avtur nabati murni masih menjadi target pengembangan ke depan — sejalan dengan G100 yang juga masih dalam tahap penyempurnaan.

Kenapa Ini Penting?

Keunggulan bahan bakar biohidrokarbon berbasis sawit seperti ini sudah terbukti dari pengalaman D100: angka setananya lebih tinggi, kandungan sulfurnya lebih rendah, kestabilan pembakarannya lebih baik, dan warnanya lebih jernih dibanding bahan bakar fosil biasa. Kalau keunggulan serupa bisa dicapai lewat J100, ini akan jadi kabar baik ganda — dunia penerbangan mendapat bahan bakar yang lebih bersih, dan Indonesia sebagai penghasil sawit terbesar dunia punya pasar baru yang besar untuk produk turunan minyak inti sawitnya.

Mimpi Besar yang Sedang Diperjuangkan

J100 melengkapi cita-cita besar Indonesia menjadikan sawit sebagai andalan energi nasional yang menyeluruh — dari kendaraan darat sampai pesawat terbang. Kalau pengembangan ini terus didukung, bukan tidak mungkin suatu hari nanti pesawat yang kita tumpangi benar-benar terbang dengan bahan bakar hasil kerja keras petani sawit Indonesia, dari hulu sampai hilir.


Wikisawit. Apa Itu J100 (Green Jet Avtur)?. https://dev.gapki.id/id/wikisawit/knowledge-base/apa-itu-j100-green-jet-avtur/

Post View : 287