Dampak El Nino Terkendali, Industri Sawit Optimistis Hadapi Kebijakan B50 2026

YOGYAKARTA, 28 Agustus 2026 – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai dampak fenomena El Nino terhadap produksi sawit nasional masih berada dalam tingkat yang terkendali. Kondisi ini membuat industri kelapa sawit Indonesia tetap optimistis menghadapi implementasi program Biodiesel B50 yang menjadi salah satu pilar penguatan ketahanan energi nasional pada 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, saat memberikan keterangan kepada media usai Workshop Jurnalis GAPKI di Yogyakarta.

Dampak El Nino terhadap Produksi Sawit Lebih Ringan dari Prediksi Awal

Berdasarkan pemantauan GAPKI di berbagai sentra perkebunan sawit Indonesia, dampak El Nino yang sebelumnya dikhawatirkan menekan produksi secara signifikan ternyata lebih ringan dibanding perkiraan awal.

Menurut Eddy Martono, laporan dari cabang-cabang GAPKI di berbagai wilayah menunjukkan bahwa sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, hingga Kalimantan Utara masih mendapatkan curah hujan yang cukup baik. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya memang mulai memasuki musim kemarau, namun kondisinya belum separah proyeksi sebelumnya.

Karena itu, potensi penurunan produksi kelapa sawit nasional kini diperkirakan berada pada kisaran maksimal 3 juta ton. Angka tersebut jauh lebih baik dibanding estimasi awal yang sempat mendekati 5 juta ton.

“Ini memang nanti menyebabkan ekspor kita bisa turun pada 2027. Karena dampak El Nino bukan hanya terlihat pada tahun ini, tetapi baru akan terasa lebih besar pada tahun depan,” ujar Eddy Martono.

Meski demikian, GAPKI tetap mengingatkan pelaku usaha dan petani untuk mewaspadai dampak lanjutan musim kering terhadap produktivitas tanaman sawit.

Pemupukan Menjadi Tantangan di Tengah Musim Kering

Salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor perkebunan sawit selama periode El Nino adalah kegiatan pemupukan.

Eddy menjelaskan bahwa pemupukan pada kondisi tanah yang terlalu kering berisiko tidak terserap optimal oleh tanaman. Akibatnya, banyak perusahaan dan petani memilih menunda aplikasi pupuk hingga curah hujan kembali normal.

Langkah tersebut dinilai lebih efisien mengingat harga pupuk yang masih relatif tinggi dan sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor.

“Pupuk itu mahal dan masih kita impor. Kalau tidak ada hujan, tidak dibolehkan untuk memupuk. Jadi praktis pada semester kedua tahun 2026, daerah yang terkena dampak El Nino tidak bisa melakukan pemupukan,” jelasnya.

Penundaan pemupukan ini diperkirakan dapat memengaruhi produktivitas kebun pada tahun berikutnya, sehingga diperlukan strategi pengelolaan kebun yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Program Biodiesel B50 Perkuat Serapan CPO Dalam Negeri

Selain membahas dampak El Nino, Eddy Martono juga menyoroti implementasi mandatori Biodiesel B50 yang akan menjadi kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sawit dan ketahanan energi nasional.

Menurutnya, program biodiesel telah terbukti meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri secara signifikan. Pada 2025, implementasi B40 diperkirakan menyerap sekitar 13 juta ton minyak sawit.

Dengan penerapan B50 pada 2026, kebutuhan bahan baku biodiesel diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 14 juta ton.

Kenaikan tersebut diperkirakan terus berlanjut pada 2027, dengan kebutuhan biodiesel mencapai sekitar 16 hingga 17 juta ton. Jika ditambah kebutuhan untuk sektor pangan, oleokimia, dan berbagai produk turunan lainnya, total konsumsi minyak sawit domestik diproyeksikan mencapai sekitar 29 juta ton.

Angka tersebut menunjukkan semakin strategisnya peran industri kelapa sawit dalam mendukung kebutuhan energi terbarukan sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

GAPKI Dukung Prioritas Kebutuhan Dalam Negeri

GAPKI menegaskan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan minyak sawit dalam negeri sebelum dialokasikan untuk pasar ekspor.

Menurut Eddy, keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor tetap dapat dijaga selama kebijakan yang diterapkan mempertimbangkan keberlanjutan industri serta kesejahteraan petani sawit.

Ia juga mengapresiasi skema pembiayaan program biodiesel melalui pungutan ekspor (levi) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Namun demikian, ia mengingatkan agar kebijakan pungutan ekspor tidak dinaikkan secara berlebihan karena berpotensi menekan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di dalam negeri.

“Jangan sampai nanti pungutan ekspor dinaikkan. Karena kalau dinaikkan maka akan menekan harga CPO dalam negeri dan pada akhirnya harga TBS petani juga akan tertekan,” tegasnya.

Eddy optimistis kebutuhan dalam negeri dan ekspor dapat berjalan beriringan tanpa saling mengorbankan.

“Saya meyakini tidak akan ada masalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Prioritas tentu untuk kebutuhan nasional terlebih dahulu, baru sisanya dialokasikan untuk ekspor,” ujarnya.

Kolaborasi GAPKI dan Media Perkuat Pemahaman Publik tentang Sawit

Dalam kesempatan yang sama, Eddy Martono juga mengapresiasi peran media dan insan pers dalam menyampaikan informasi yang berimbang mengenai perkembangan industri kelapa sawit Indonesia.

Menurutnya, berbagai kegiatan edukatif bersama wartawan yang rutin diselenggarakan GAPKI selama beberapa tahun terakhir menjadi sarana penting untuk memperluas pemahaman publik mengenai kontribusi sektor sawit terhadap pembangunan nasional.

“Tidak ada artinya jika kita tidak bisa menyuarakan fakta yang sebenarnya. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting,” katanya.

Melalui sinergi antara industri dan media, informasi mengenai tantangan, peluang, serta kontribusi sektor sawit dapat disampaikan secara lebih objektif dan berbasis data.

Industri Sawit Tetap Menjadi Pilar Ekonomi Nasional

Eddy menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis Indonesia yang memiliki produktivitas tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Selain itu, sektor sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat di berbagai daerah.

Saat ini diperkirakan sekitar 16 juta orang menggantungkan hidupnya secara langsung maupun tidak langsung pada industri kelapa sawit, mulai dari petani, pekerja perkebunan, pelaku usaha kecil, hingga sektor logistik dan industri hilir.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan, serta penguatan program biodiesel nasional, industri sawit Indonesia diyakini akan terus menjadi motor penggerak ekonomi, sumber devisa negara, serta penopang ketahanan energi dan pangan nasional di masa mendatang. (Fetry Wuryasti)

Post View : 21