Jakarta — Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, merekomendasikan agar pemerintah memantapkan terlebih dahulu implementasi mandatori Biodiesel B50 sebelum melompat ke penerapan B60 yang ditargetkan berlaku Januari 2027. Hal ini disampaikan Eddy dalam wawancara dalam Program Zona Bisnis Metro TV terkait peluang dan tantangan pengadaan biodiesel B60.

Wawancara ini digelar di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi energi berbasis sawit, termasuk rencana kombinasi crude palm oil (CPO) dengan Hydro Treated Vegetable Oil (HVO) sebagai salah satu opsi formulasi B60, serta upaya hilirisasi batu bara menjadi metanol guna memenuhi kebutuhan bahan baku FAME yang menurut Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi masih mengalami defisit pasokan hingga 2–3 juta ton per tahun.
B50 Tahun Ini Tidak Bermasalah, namun Kapasitas FAME Belum Maksimal
Eddy menegaskan bahwa implementasi B50 pada 2026 berjalan tanpa kendala berarti, mengingat masih adanya masa transisi dua bulan sejak diluncurkan pada Juli 2026, serta pasokan bahan baku CPO yang saat ini masih mencukupi.
Namun, ia mengakui kapasitas produksi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) belum berjalan optimal, dengan tingkat utilisasi saat ini baru berkisar 70–80% dari kapasitas maksimal — kondisi yang menurutnya baru akan benar-benar terlihat dampaknya pada 2027.
Proyeksi Produksi 2027 Berpotensi Turun Akibat El Nino
Eddy memaparkan bahwa tantangan sesungguhnya justru akan muncul pada 2027, bukan pada penerapan B60 semata, melainkan pada keberlangsungan B50 itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa dampak El Nino menghambat proses pemupukan di sejumlah wilayah perkebunan, meski beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan sebagian Kalimantan Utara masih diguyur hujan sehingga penurunan produksi tidak sedrastis prediksi awal.
Ia menyebutkan proyeksi awal sempat memperkirakan penurunan produksi hingga 5 juta ton, namun berdasarkan laporan terbaru, penurunan diperkirakan berada di kisaran 3 juta ton. Dengan produksi 2025 yang berada di angka 32 juta ton, dan 2026 diperkirakan relatif serupa atau sedikit naik, proyeksi produksi 2027 berpotensi turun menjadi sekitar 27 juta ton, itu pun dengan asumsi implementasi masih di level B50.
Risiko Berkurangnya Dana Pungutan Ekspor
Eddy mengingatkan bahwa penurunan produksi berimplikasi langsung terhadap volume ekspor, yang pada akhirnya memengaruhi penerimaan dana pungutan ekspor (levy), sumber utama pembiayaan insentif atau subsidi program biodiesel. Ia memperkirakan apabila skema B60 diterapkan, potensi penurunan ekspor bisa lebih dalam lagi, dengan proyeksi ekspor turun hingga sekitar 23 juta ton, yang berarti penerimaan dana levy akan semakin tergerus.
Menyetujui Usulan: Benahi Dulu B50 sebelum ke B60
Menanggapi usulan agar pemerintah lebih bijak memantapkan pelaksanaan B50 terlebih dahulu, termasuk membenahi kekurangan kapasitas CPO, produksi FAME, dan distribusi hingga 2027, dibandingkan langsung melompat ke B60, Eddy menyatakan kesetujuannya secara tegas. “Setuju, memang seperti itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa apabila suplai sawit Indonesia ke pasar dunia berkurang akibat prioritas pemenuhan mandatori dalam negeri, harga minyak nabati global termasuk minyak sawit berpotensi naik.
Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak pada Indonesia sendiri, mengingat posisinya sebagai produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia, bukan hanya harga minyak goreng yang berpotensi naik, melainkan juga berbagai produk turunan lain yang menggunakan bahan baku sawit.
B50 Terbukti Aman untuk Mesin, B60 Masih Perlu Pengujian
Terkait kekhawatiran dampak B50 terhadap performa mesin kendaraan, baik penumpang maupun truk, Eddy menyampaikan bahwa laporan yang diterimanya justru menunjukkan hasil positif, tanpa adanya masalah berarti pada mesin kendaraan yang menggunakan B50.
Namun, ia menegaskan bahwa penerapan B60 tidak dapat dilakukan secara langsung tanpa pengujian menyeluruh, terutama karena rencana formulasi yang tidak murni berasal dari CPO, melainkan turut mengombinasikan HVO. Perubahan komposisi blending semacam ini, menurutnya, berpotensi memengaruhi kinerja mesin sehingga memerlukan waktu uji yang tidak singkat.
“Rasanya tidak mungkin kalau akan diterapkan di Januari 2027, rasanya tidak mungkin karena harus uji dulu,” tegas Eddy.
Live Metro TV. https://www.metrotvnews.com/live. Energy Focus. 9/9/2026. (Fresty Wuryasti)