GAPKI Usulkan Kebijakan Biofuel Fleksibel untuk Menjaga Ekspor dan Ketahanan Sawit Nasional

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan penerapan kebijakan biofuel yang lebih fleksibel agar penggunaan minyak sawit untuk energi dapat disesuaikan dengan dinamika pasar global. Menurut GAPKI, fleksibilitas tersebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik, ekspor sawit, dan keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menjelaskan bahwa alokasi minyak sawit untuk biodiesel sebaiknya mempertimbangkan pergerakan harga minyak sawit dan harga minyak bumi dunia. Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan sawit dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih optimal sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.

GAPKI Dorong Kebijakan Biofuel yang Lebih Fleksibel

Menurut Mukti, ketika harga minyak bumi berada pada level tinggi, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel dapat diperkuat melalui dukungan kebijakan yang sesuai. Sebaliknya, ketika harga minyak sawit lebih tinggi dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar di pasar internasional, sebagian pasokan dapat diarahkan untuk kebutuhan ekspor.

Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan praktik yang diterapkan beberapa negara produsen biofuel, termasuk Brasil, yang menyesuaikan kebijakan energi berdasarkan kondisi pasar dan kebutuhan nasional.

Konsumsi Sawit Domestik Terus Meningkat

GAPKI menilai perlunya fleksibilitas kebijakan karena konsumsi minyak sawit dalam negeri terus meningkat, baik untuk kebutuhan pangan, oleokimia, maupun biodiesel.

Peningkatan penggunaan biodiesel berpotensi mengurangi volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar ekspor. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi perdagangan, tetapi juga berdampak pada penerimaan dari pungutan ekspor yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan program biodiesel.

Menurut GAPKI, skema subsidi biodiesel berasal dari pungutan ekspor produk sawit. Oleh karena itu, penurunan volume ekspor dapat memengaruhi besaran dana yang tersedia untuk mendukung program tersebut.

Ekspor CPO Indonesia Diperkirakan Menurun pada 2027

GAPKI memperkirakan ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia berpotensi turun sekitar 3–4 juta ton pada 2027. Proyeksi tersebut dipengaruhi meningkatnya konsumsi domestik di tengah pertumbuhan produksi yang relatif terbatas.

Dalam lima tahun terakhir, produksi minyak sawit Indonesia berada pada kisaran 51–56 juta ton per tahun. Sementara itu, kebutuhan domestik terus meningkat seiring berkembangnya industri pangan, oleokimia, dan energi berbasis sawit.

Khusus untuk biodiesel, kebutuhan CPO diperkirakan terus bertambah. Penggunaan CPO untuk biodiesel yang sekitar 12,4 juta ton pada 2025 diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 14 juta ton pada 2026 dan berpotensi mencapai sekitar 17 juta ton pada 2027.

Dengan kondisi tersebut, ruang ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan semakin terbatas apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas perkebunan.

Produktivitas dan PSR Menjadi Kunci

Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor, GAPKI menilai peningkatan produktivitas harus menjadi prioritas utama. Salah satu langkah strategis yang terus didorong adalah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Melalui PSR, produktivitas kebun rakyat diharapkan meningkat sehingga mampu menambah pasokan bahan baku tanpa harus melakukan ekspansi lahan secara besar-besaran.

Peningkatan produktivitas juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap produk yang berkelanjutan dan memiliki ketertelusuran yang baik.

Usulan Kawasan Sawit Khusus untuk Energi

Selain mendorong fleksibilitas kebijakan biofuel, GAPKI juga mengusulkan pengembangan kawasan kelapa sawit yang secara khusus didedikasikan untuk kebutuhan energi.

Konsep tersebut bertujuan memastikan pasokan bahan baku biodiesel berasal dari sumber yang memang dirancang untuk mendukung ketahanan energi nasional, sehingga tidak mengurangi pasokan untuk kebutuhan pangan maupun ekspor.

Menurut GAPKI, pengembangan kawasan sawit energi dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara program biodiesel, kebutuhan industri hilir, dan kinerja ekspor sawit Indonesia.

Dengan meningkatnya kebutuhan energi terbarukan dan konsumsi domestik, industri sawit Indonesia memerlukan strategi yang mampu menjaga ketahanan energi sekaligus mempertahankan kontribusinya terhadap perdagangan dan perekonomian nasional. (*)


Cnnindonesia.com. GAPKI Usul Kebijakan Biofuel Fleksibel, Sawit Bisa Dialihkan ke Ekspor. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20261006143056-92-1412248/gapki-usul-kebijakan-biofuel-fleksibel-sawit-bisa-dialihkan-ke-ekspor

Post View : 82