Refleksi Industri Kelapa Sawit 2015 dan Prospek 2016

web logo

SIARAN PERS
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Refleksi Industri Kelapa Sawit 2015 dan Prospek 2016

Refleksi 2015
Tahun 2015 merupakan tahun yang dilewati industri sawit dengan penuh tantangan, mulai dari harga CPO global yang tidak bergairah sampai pada kasus kebakaran lahan perkebunan kelapa sawit. Harga rata-rata bulan CPO global sepanjang tahun 2015 tidak mampu mencapai US$ 700 per metrik ton. Sehingga sepanjang tahun secara otomatis ekspor CPO dan turunannya tidak dikenakan Bea Keluar karena harga rata-rata CPO di bawah US$ 750 per metrik ton yang merupakan batas minimum pengenaan Bea Keluar. Harga rata-rata CPO tahun 2015 hanya berada di angka US$ 614,2 per metrik ton. Harga rata-rata ini turun sebesar 25% dibandingkan dengan harga rata-rata tahun 2014 yaitu US$ 818.2 per metrik ton.

Jatuhnya harga CPO global tidak terlepas dari pengaruh jatuhnya harga minyak mentah dunia yang sempat jatuh sampai US$ 30 dollar per barel, yang kemudian mempengaruhi harga-harga komoditas lainnya. Pertumbuhan ekonomi China yang melambat dan stagnasi di Eropa juga menjadi faktor penyebab penurunan harga CPO global.

Sementara itu berdasarkan data yang diolah GAPKI, total ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada tahun 2015 mencapai 26,40 juta ton atau naik 21% dibandingkan dengan total ekspor 2014, 21,76 juta ton. Adapun produksi CPO dan turunannya 2015 diprediksi mencapai 32,5 juta ton (termasuk biodiesel dan oleochemical). Angka produksi ini naik 3% dibandingkan total produksi tahun 2014 yang hanya mencapai 31,5 juta ton.

Nilai ekspor minyak sawit sepanjang 2015 mencapai 18,64 milyar dollar AS. Meskipun volume ekspor naik, nilai ekspor mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu karena rendahnya harga minyak sawit global. Nilai ekspor tahun 2015 tercatat turun sebesar 11,67% dibandingkan 2014 yang mencapai 21,1 milyar dollar AS.

India, Negara Uni Eropa dan China masih merupakan pengimpor terbesar minyak sawit dari Indonesia. Sepanjang tahun 2015, volume ekspor minyak sawit Indonesia ke India menjadi 5,8 juta ton atau naik 15% dibandingkan tahun lalu yaitu 5,1 juta ton. Sementara ekspor ke negara-negara Uni Eropa mencapai 4,23 juta ton, dan ini menunjukkan kenaikan sekitar 2,6% dibandingkan dengan volume ekspor tahun lalu. China secara mengejutkan mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawit sepanjang tahun 2015 sebesar 64% atau dari 2,43 juta ton tahun 2014 meningkat menjadi 3,99 juta ton pada 2015.

Peningkatan permintaan minyak sawit yang cukup signifikan sepanjang tahun 2015 dibukukan oleh Amerika Serikat sebesar 59% atau mencapai 758,55 ribu ton dibandingkan tahun lalu hanya 477,23 ribu ton. Hal ini diikuti oleh Pakistan yang membukukan kenaikan 32% atau dari 1,66 juta ton di 2014 meningkat menjadi 2,19 juta ton di 2015.

Bertolak belakang dengan hal di atas volume ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar baru di Negara Timur Tengah tahun 2015 mengalami penyusutan. Menurut data yang diolah GAPKI volume ekspor minyak sawit Indonesia ke Negara Timur Tengah pada tahun 2015 melorot 8% dibandingkan tahun lalu atau dari 2,29 juta ton di 2014 turun menjadi 2,11 juta ton di 2015. Salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan permintaan Negara Timur Tengah adalah karena jatuhnya harga minyak dunia yang secara otomatis mengganggu finansial negara-negara penghasil minyak sehingga daya beli ikut melemah.

Meskipun ekonomi negara-negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia mengalami perlambatan akan tetapi permintaan akan minyak sawit tetap tumbuh, hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan minyak nabati selalu meningkat setiap tahun seiring dengan peningkatan populasi dan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia untuk menggunakan energi hijau dengan menggunakan bahan bakar nabati.

Catatan Penting 2015 dalam negeri yang dihadapi industri sawit nasional adalah sebagai berikut:
– Dibentuknya Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit dengan tujuan untuk mendorong pengembangan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dengan prioritas penerapan biodiesel B20. Pelaksanaan mandatori B15 baru benar-benar efektif terlaksana di bulan Desember 2015 secara nasional sehingga penyerapan di dalam negeri belum tinggi. Pelaksanaan B15 sudah dimulai pada September tetapi terbatas pada beberapa daerah saja sehingga harga CPO global masih sulit terdongkrak. Sampai pada akhir 2015 realisasi penyerapan biodiesel masih di bawah 1 juta kiloliter. Jatuhnya harga minyak dunia yang turut mempengaruhi dan menyeret harga-harga komoditas lain turun, akan tetapi turunnya harga CPO bisa dihambat dengan adanya penyerapan BBN di dalam negeri.

– Meskipun pemerintah telah melakukan deregulasi beberapa peraturan yang menghambat perkembangan industri, industri sawit masih belum mendapatkan dampak yang signifikan dari program deregulasi ini karena belum ada deregulasi secara konkret untuk industri kelapa sawit.

– El Nino yang cukup panjang yang menjadi salah satu penyebab kebakaran lahan dan bencana asap juga menjadi permasalahan tersendiri. Industri sawit dituding sebagai penyebab utama kebakaran lahan meskipun Pemerintah dan pelaku usaha mengetahui bahwa kebakaran lahan di konsesi perkebunan tidak mencapai 15% dari total luasan kebakaran lahan yang terjadi. Namun opini publik telah terbentuk dengan masif sehingga industri sawit yang menjadi kambing hitam.

– Kasus kebakaran lahan masih menjadi “ancaman” karena masalah kebakaran lahan diproses hukum dianggap sebagai masalah pidana. Beberapa anggota GAPKI mengalami kasus kebakaran dan menghadapi masalah hukum.

Tahun 2016
Industri sawit nasional masih tetap menjadi andalan, motor penggerak dan perekonomian nasional.

Pada akhir November para pakar meramalkan bahwa harga CPO global di tahun 2016 akan mencapai US$ 600 per metrik ton pada kuartal pertama, akan tetapi kita melihat sampai saat ini harga CPO global cenderung menurun. Banyak spekulasi berkembang penyebab utama dari harga yang sulit terkerek disebabkan jatuhnya harga minyak mentah dunia yang saat ini sudah menyentuh level US$30 per barel.

Dengan harga minyak yang jatuh sedemikian rendah tentunya membawa implikasi kepada politik, industri dan perusahaan. Dalam keadaan demikian pemerintah sudah sepatutnya untuk meninjau kembali orientasi kebijakan ekonomi makro, apakah subsidi biodiesel masih relevan atau justru sebaliknya meningkatkan ekspor minyak sawit untuk meningkatkan devisa sehingga memperkuat posisi Indonesia.

Tantangan di tahun 2016 yang perlu segera diselesaikan adalah :
– Mendorong Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk segera merealisasikan program kerja khususnya membantu replanting kebun rakyat dan pembiayaan riset.

– GAPKI mendukung pemerintah membentuk badan restorasi gambut. Badan yang dibentuk ini harus fokus melakukan rehabilitasi gambut yang rusak terutama di kawasan hutan dan open access. Sementara kepada perusahaan diberikan kewenangan untuk mengelola gambut lebih baik. GAPKI juga mendorong Badan Restorasi Gambut bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk sektor usaha pemegang konsesi.

– Inisiatif DPR untuk membuat Undang-Undang Per-kelapa sawitan menjadi concern industri untuk mengadakan komunikasi dengan kementerian dan DPR supaya menghasilkan undang-undang yang menciptakan iklim industri yang baik bagi petani maupun pengusaha.

– Meningkatkan kerja sama dengan negara-negara pengimpor minyak sawit seperti India, China, Pakistan dan negara-negara Eropa.

Jakarta, 20 Januari 2016
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Fadhil Hasan

Direktur Eksekutif GAPKI
Tel. 021-57943871
Fax. 021-57943872