Minyak Sawit dan Polusi: Lebih Besar dari Minyak Nabati Lainnya? Ini Faktanya!

Polusi Tanah/Air yang dihasilkan minyak sawit lebih besar dibandingkan minyak nabati lain (Mitos 6-23)

Tiga minyak nabati utama dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak rapeseed, memiliki karakteristik agronomi yang berbeda. Kelapa sawit merupakan tanaman minyak nabati tropis, tergolong sebagai perennial plant dengan siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun, berukuran besar, dan memiliki tingkat produktivitas minyak yang tinggi. Sementara kedelai dan rapeseed umumnya tanaman sub-tropis, tanaman musiman dengan tingkat produktivitas minyak yang relatif rendah dibandingkan tanaman kelapa sawit.

Dalam proses produksi minyak nabati, tanaman tersebut menggunakan input produksi yaitu pupuk Nitrogen (N), Fosfat (P2O5), dan pestisida. Berdasarkan data FAO (2013) untuk menghasilkan setiap ton minyak nabati, penggunaan pupuk dan pestisida diantara ketiga tanaman minyak nabati ternyata berbeda-beda (Tabel 1).

Secara umum untuk setiap ton minyak nabati yang dihasilkan, tanaman kedelai lebih banyak menggunakan pupuk (Nitrogen dan Phosphate) dan pestisida dibandingkan tanaman rapeseed maupun kelapa sawit. Penggunaan pupuk dan pestisida pada tanaman rapeseed juga lebih tinggi dibandingkan kelapa sawit. Secara keseluruhan, tanaman kelapa sawit adalah tanaman minyak nabati yang lebih sedikit menggunakan pupuk dan pestisida untuk setiap ton minyak nabati yang dihasilkan.

Pupuk dan pestisida yang diaplikasikan pada tanaman tidak semua terserap oleh tanaman. Sebagian terbuang sebagai emisi atau polutan yang mencemari tanah dan air yang beresiko mencemari kehidupan biota tanah maupun perairan. Penggunaan pupuk nitrogen anorganik menjadi salah satu sumber emisi NO2 di sektor pertanian (FAO, 2020; PASPI Monitor, 2020a; Olivier et al., 2022).

Untuk setiap ton minyak nabati yang dihasilkan (Tabel 1), polutan dari residu pupuk dan pestisida pada tanaman kedelai lebih tinggi dibandingkan dengan pada tanaman rapeseed dan kelapa sawit. Diantara ketiga tanaman tersebut, kelapa sawit merupakan tanaman minyak nabati yang paling rendah menghasilkan polutan akibat penggunaan pupuk dan pestisida.

Data-data di atas menunjukkan bahwa sumber minyak nabati yang paling rendah menghasilkan polutan adalah minyak sawit. Kemudian disusul oleh minyak rapeseed dan minyak kedelai. Dalam rangka penyediaan minyak nabati dunia, idealnya (the first best condition) adalah memilih tanaman minyak nabati dengan zero pollutant. Sayangnya proses produksi minyak nabati dengan zero pollutant dari pupuk dan pestisida hampir tidak ada di planet bumi. Sehingga pilihan yang tersedia adalah tanaman minyak nabati yang minimum polutan yakni minyak sawit.

Referensi :

  • [FAO] Food Agricultural Organization. 2013. Biofuels and Sustainability Chalanges: A Global Assessment of Sustainability Issues, Trends and Policies for Biofuels and Related Feedstocks. Tersedia pada: https://agris.fao.org/agris-search/search.do?recordID=XF2015000712
  • [FAO] Food Agricultural Organization. 2020. Agricultural Emission by Country [internet]. Tersedia pada: http://www.fao.org/faostat/en/#data/GT
  • Olivier JGJ, Schure KM, Peters JAHW. 2022. Trends in Global CO2 and Total Greenhouse Gas Emissions: 2021 Summary Report. Tersedia pada: https://www.pbl.nl/sites/default/files/downloads/pbl-2022-trends-in- global-co2-and-total-greenhouse-gas-emissions-2021-summary-report_4758.pdf
  • PASPI Monitor. 2020a. Contribution of Indonesian Agricultural Toward Global Agricultural GHG Emissions. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(08): 43-48.
Post View : 1505