Kelapa Sawit Penyebab Kekeringan? Ini Fakta Konsumsi Airnya

Kelapa sawit adalah tanaman yang boros air sehingga Menyebabkan kekeringan (Mitos 6-24)

Tanaman kelapa sawit sering dituding sebagai tanaman yang boros air. Sehingga pengembangan perkebunan kelapa sawit diisukan membuat daerah yang bersangkutan kekeringan. Isu tersebut sengaja disebarluaskan secara masif dan intensif untuk membangun opini bahwa kekeringan yang sering terjadi di berbagai belahan bumi dan daerah adalah akibat perkebunan kelapa sawit.

Fenomena terjadinya kekeringan di berbagai belahan bumi/negara merupakan bagian dari dampak perubahan iklim global. Luas perkebunan kelapa sawit dunia pada tahun 2021 hanya sekitar 25 juta hektar atau 0.16 persen dari total luas daratan dunia, sangat kecil untuk mempengaruhi ekosistem dunia. Kekeringan yang terjadi di berbagai negara seperti Eropa, Amerika, Afrika, dan lain-lain, tidak berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit. Sama seperti sektor lain, perkebunan kelapa sawit dunia juga merupakan korban dari kekeringan dan bukan sebagai penyebab.

Semua tumbuhan memerlukan air. Besar kecilnya kebutuhan air dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain besar kecilnya tanaman. Tumbuhan yang lebih besar pastilah memerlukan air yang lebih banyak dibandingkan tumbuhan kecil. Namun terkait efisiensi atau boros, tumbuhan kecil belum tentu lebih efisien dalam menggunakan air dibandingkan tanaman besar. Untuk membandingkannya perlu menggunakan indikator yang sebanding (apple to apple).

Coster (1938) meneliti kebutuhan air dengan menggunakan indikator evapotranspirasi tanaman (Gambar 1). Studi tersebut menemukan bahwa bambu dan lamtoro tergolong boros air dengan kebutuhan sekitar 3,000 mm per tahun. Kebutuhan air pada akasia sebesar 2,400 mm per tahun, sengon sebesar 2,300 mm per tahun, serta pinus dan karet sekitar 1,300 mm per tahun. Sedangkan kebutuhan air pada kelapa sawit hanya sekitar 1,104 mm per tahun.

Jika dilihat porsi curah hujan yang dimanfaatkan oleh kelapa sawit, Pasaribu et al. (2012) menemukan bahwa persentase curah hujan yang digunakan oleh perkebunan kelapa sawit sebesar 40 persen dari curah hujan tahunan (Gambar 2). Persentase tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan tanaman mahoni (58 persen) dan pinus (65 persen).

Selama ini tanaman pinus, akasia dan sengon populer dijadikan sebagai tanaman hutan baik dalam program reboisasi maupun hutan tanaman industri. Tanaman kehutanan tersebut ternyata relatif boros menggunakan air. Sementara tanaman kelapa sawit yang selama ini dituduhkan boros air, ternyata jauh lebih hemat dibandingkan tanaman hutan tersebut, bahkan sawit juga lebih hemat air dibandingkan dengan tanaman karet.

Selain menggunakan indikator evapotranspirasi, perbandingan kebutuhan air pada pada komoditas pertanian juga dapat mengunakan konsep “water footprint”. Konsep tersebut dapat didefinisikan sebagai total volume air (freshwater) yang digunakan komoditas pertanian untuk memproduksi suatu produk.

Tanaman minyak nabati dengan water footprint terbesar (Gambar 3) adalah bunga matahari (3,366 m3/ton), kemudian disusul oleh rapeseed (2,271 m3/ton) dan kedelai (2,145 m3/ton). Sementara itu, water footprint pada kelapa sawit hanya sebesar 1,098 m3/ton, atau paling rendah dibandingkan tanaman minyak nabati utama dunia (Mekonnen dan Hoekstra, 2010; Safitri et al., 2018).

Hasil penelitian para ahli tersebut menyatakan bahwa tanaman kelapa sawit justru termasuk tanaman yang relatif hemat menggunakan air dibandingkan tanaman hutan maupun tanaman minyak nabati utama dunia. Fakta empiris tersebut sekaligus menjawab isu yang selama ini disebarkan oleh pihak anti sawit beserta jejaringnya di berbagai negara, yang menuduh kelapa sawit sebagai tanaman yang rakus air.

Tanaman kelapa sawit bukan hanya hemat air, tetapi juga memiliki mekanisme untuk melestarikan konservasi tanah dan air. Kelapa sawit berasal dari Afrika yang iklimnya tidak melimpah air sehingga memiliki kemampuan beradaptasi hemat air. Kelapa sawit memiliki sistem adaptasi ekofisiologi melalui struktur morfologi berupa struktur pelepah daun pohon yang berlapis (Turner dan Gilbanks, 1974; Harahap, 2006; Harry et al., 2016) dan sistem perakaran serabut massif, luas, dan dalam yang membentuk sistem biopori alamiah (Harahap, 2007; Harianja, 2009).

Biopori tersebut makin banyak seiring dengan makin dewasa umur tanaman. Biopori alamiah berperan dalam meningkatkan kemampuan perkebunan kelapa sawit untuk menyerap/menahan air (water holding capacity) melalui peningkatan penerusan (infiltrasi) air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi aliran air permukaan (run-off) dan menyimpan cadangan air di dalam tanah.

Dengan struktur morfologi tersebut, kelapa sawit memiliki kemampuan untuk menghemat air dan menyimpan cadangan air sehingga tidak menyebabkan kekeringan. Menurut penelitian Allen et al. (1998) dan Rusmayadi (2011) mengungkapkan bahwa kapasitas menyimpan air pada lahan sawit lebih baik dibandingkan tanaman karet sehingga kandungan air tanah pada lahan perkebunan kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan lahan perkebunan karet.

Mengacu pada konsep multifungsi pertanian (Huylenbroeck et al., 2007), perkebunan kelapa sawit memiliki blue function/services atau fungsi kelestarian hidrologi (Harahap, 2007). Fungsi hidrologi yang melekat pada perkebunan kelapa sawit ditunjukkan melalui dua mekanisme alamiah yakni mekanisme sistem perakaran pada tanaman kelapa sawit sebagaimana yang telah diuraikan di atas dan mekanisme struktur pelepah daun.

Fungsi konservasi tanah dan air perkebunan kelapa sawit terjadi melalui mekanisme struktur pelepah daun yang berlapis sehingga mampu menaungi lahan (canopy cover) mendekati 100 persen setelah dewasa. Struktur pelepah daun yang demikian berfungsi melindungi tanah dari pukulan langsung air hujan sehingga dapat meminimumkan erosi tanah melalui water run-off.

Fungsi konservasi hidrologis perkebunan kelapa sawit relatif sama dengan hutan (Tabel 2). Indikator evapotranspirasi, cadangan air tanah, penerusan curah hujan, laju infiltrasi dan kelembaban udara (iklim mikro) antara perkebunan kelapa sawit dengan hutan hujan tropis relatif sama.

Dengan uraian di atas, kiranya jelas bahwa tanaman kelapa sawit selain relatif hemat air juga memiliki fungsi konservasi tanah dan air serta pelestarian daur hidrologis. Fungsi tersebut berlangsung cukup panjang yakni sekitar 25 tahun sejak tanaman kelapa sawit ditanam hingga replanting.

Referensi :

  • Allen. 1998. Crop Evapotranspiration-Guidelines for Computing Crop Water Requirements. Rome: FAO Irrigation and Drainage Paper No. 56.
  • Coster C. 1938. Superficial Run-off and Erosion on Java. Tecnona. 31: 613- 728.
  • Harahap EM. 2007. Peranan Tanaman Kelapa Sawit Pada Konservasi Tanah dan Air. Dipresentasikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
  • Harry I, T Pambudi, Suwarto, S Yahya. 2016. Pengaturan Jumlah Pelepah untuk Kapasitas Produksi Optimum Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jaqc). Buletin Agrohorti. 4(1): 46-55.
  • Harianja H. 2009. Infiltrasi Pada Berbagai Kelas Umur Tegakkan Kelapa Sawit. Medan (ID): Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
  • Huylenbroeck GV, V Vandermulen, EM Penningen, A Verspecht. 2007. Multifunctionality of Agriculture: A Review Definition, Evidence and Instruments. Living Review in Landscape Research. 1(3). http://lrlr.landscapeonline.de/Articles/lrlr-2007-3/download/lrlr-2007-3Color.pdf
  • Mekonnen MM, Hoekstra AY. 2010. The Water Footprint of Crops and Derived Crop Products. UNESCO-IHE Institute for Water Education. Tersedia pada: https://research.utwente.nl/files/59481249/Report47_WaterFootprint Crops_Vol1.pdf
  • Pasaribu H, A Mulyadi, S Tarumun. 2012. Neraca Air di Perkebunan Kelapa Sawit di PPKS Sub-Unit Kalianta Kabun Riau [internet]. Tersedia pada: Ejournal.unri.ac.id/960-1908-1- SM.pdf.
  • Rusmayadi G. 2011. Dinamika Kandungan Air Tanah di Areal Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet dengan Pendekatan neraca Air. Agroscientiae. 18 (2).
  • Safitri L, Kautsar HV, Purboseno S, Suryanti S, Wulandari RK. 2018. Model Analisis Water Footprint TBS Sawit untuk Optimalisasi Produksi dan Early Warning System Kekeringan Perkebunan Kelapa Sawit. Dipublikasikan pada Laporan Grant Riset Sawit BPDPKS tahun 2018.
  • Turner PD, RA Gillbanks. 1974. Oil Palm Cultivation and Management. Kuala Lumpur (MY): The Incorporated Society of Planters.
Post View : 3396