Produksi Minyak Sawit: Benarkah Penyebab Kehilangan Biodiversitas?

Produksi minyak sawit menyebabkan biodiversity loss yang lebih besar dibandingkan minyak nabati lainnya (Mitos 6-21)

Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang relatif cepat dalam periode 20 tahun terakhir sering dituding berdampak pada biodiversity loss (Fitzherbert et al., 2008; Koh dan Wilcove, 2008; Foster et al., 2011; Savilaakso et al., 2014; Vijay et al., 2016; Austin et al., 2019; Qaim et al., 2020). Isu pengkaitan perkebunan kelapa sawit dengan biodiversity loss juga telah menjadikan minyak sawit dan produk turunannya sebagai high-risk commodity di Uni Eropa.

Seluruh kegiatan di permukaan bumi yang mengkonversikan hutan menjadi non-hutan, baik pada tanaman minyak nabati, serelia, peternakan, pemukiman, dan lain-lain, pasti menyebabkan biodiversity loss. Demikian juga, ekspansi tanaman minyak nabati dunia seperti minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari, juga menyebabkan biodiversity loss. Sehingga pertanyaannya adalah bukan terjadi atau tidak terjadi biodiversity loss¸ melainkan terkait dengan pilihan-pilihan yang berkonsekuensi pada besar kecilnya biodiversity loss. Apakah biodiversity loss pada produksi minyak sawit lebih tinggi dibandingkan dengan produksi minyak kedelai, minyak rapeseed atau minyak bunga matahari?

Beyer et al., (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) melakukan studi komparasi biodiversity loss global antar minyak nabati dengan membandingkan biodiversitas tutupan lahan antara sesudah dan sebelum dikonversikan menjadi tanaman minyak nabati. Studi tersebut menggunakan indikator jejak (footprint) Species Richness Loss (SRL) per liter minyak nabati sebagai ukuran biodiversity loss (Gambar 1).

Hasil studi tersebut mengungkapkan bahwa biodiversity loss minyak sawit lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lain (minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed). Secara relatif dengan SRL minyak sawit sebagai pembanding menunjukkan bahwa indeks SRL minyak kedelai 284 persen, indeks SRL minyak rapeseed 179 persen dan indeks SRL minyak bunga matahari 144 persen. Artinya dengan SRL sebagai indikator biodiversity loss menunjukkan bahwa minyak sawit adalah minyak nabati yang paling rendah biodiversity loss-nya, sedangkan minyak nabati yang paling besar biodiversity loss-nya adalah minyak kedelai (PASPI Monitor, 2021a).

Biodiversity loss relatif minyak sawit yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lainnya mudah dipahami. Perkebunan kelapa sawit dikembangkan di zona tropis yaitu zona permukaan bumi yang kaya sinar matahari dan air. Berbeda dengan tanaman minyak nabati utama lainnya (minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari) yang berukuran relatif kecil dan tergolong tanaman musiman. Kelapa sawit merupakan tanaman perenial, memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun, memiliki ukuran pohon relatif besar, tumbuh relatif cepat, dan memiliki canopy cover mendekati 100 persen, sehingga dengan bertambahnya umur maka biodiversitas di areal perkebunan juga akan meningkat kembali.

 


Referensi

  • Beyer RM, AP Durán, TT Rademacher, P Martin, C Tayleur, SE Brooks, D Coomes, PF Donald, FJ Sanderson. 2020. The Environmental Impacts of Palm Oil and Its Alternatives. Environmental Science bioRxiv. https://doi.org/10.1101/2020.02.16.951301
  • Beyer RM, Rademacher T. 2021. Species Richness and Carbon Footprints of Vegetable Oils: Can High Yields Outweigh Palm Oil’s Environmental Impact? Sustainability. 13: 1813. https://doi.org/10.3390/su13041813.
  • Fitzherbert E, MK.Struebug, A Morel, F Danielsen, CA Bruhi, PF Donald, B. Phalan. 2008. How Will Oil Palm Expansion Affect Biodiversity? Trends in Ecology and Evolution. 23(10): 538-545.
  • Foster WA, Snaddon JL., Turner EC, Fayle TM, Cockerill TD, Ellwood MDF, Broad GR, Chung AYC, Eggleton P, Khen CV. 2011. Establishing the Evidence Base for Maintaining Biodiversity and Ecosystem Function in The Oil Palm Landscapes of Southeast Asia. Philosophical Transactions Biological Sciences. 366 (1582): 3277–3291.
  • Koh LP, Wilcove DS. 2008. Is Oil Palm Agriculture Really Destroying Tropical Biodiversity? Conservation Letters. 1(2): 60–64. https://doi.org/10.1111/j.1755-263X.2008.00011.x
  • Savilaakso S, Garcia C, Garcia-Ulloa J, Ghazoul J, Groom M, Guariguata MR, Laumonier Y, Nasi, R, Petrokofsky G, Snaddon J. 2014. Systematic Review of Effects on Biodiversity from Oil Palm Production. Environmental Evidence. 3(4): 1–20. https://doi.org/10.1186/2047-2382-3-4
  • Vijay V, Pimm LS, Jenkins CN, Smith SJ. 2016. The Impacts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss. Plos One. 11(7): 1-19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159668
  • PASPI Monitor. 2021a. Biodiversity Loss to Produce Palm Oil is Higher than Other Vegetable Oils, isn’t True?. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(45): 563-568.
  • Qaim M, KT Sibhatu, H Siregar, I Grass. 2020. Environmental, Economic, and Social Consequences of the Oil Palm Boom. Annual Review of Resource Economics. 12:321-344. https://doi.org/10.1146/annurev-resource-110119-024922
Post View : 1430