Selama ini, banyak yang percaya bahwa kelapa sawit adalah tanaman boros air yang menyebabkan kekeringan. Tapi, benarkah demikian? Yuk kita kupas tuntas faktanya!
MITOS:
Tanaman sawit boros air dan menyebabkan kekeringan.
FAKTA:
Sawit justru termasuk tanaman yang hemat dan efisien dalam penggunaan air, bahkan punya kontribusi penting dalam konservasi hidrologi.
Perbandingan Kebutuhan Air Tanaman
Tingkat Evapotranspirasi
Proses penguapan air ke atmosfer dari tanah dan tanaman menunjukkan bahwa kelapa sawit menggunakan air lebih sedikit dibanding banyak tanaman lainnya.
Lihat datanya:
-
Lamtoro & Bambu: 3.000 mm/tahun
-
Akasia: 2.400 mm/tahun
-
Sengon: 2.300 mm/tahun
-
Sawit: Hanya 1.104 mm/tahun (Sumber: Coster, 1938)
Tingkat Transpirasi
Transpirasi adalah proses pelepasan uap air dari daun. Lagi-lagi sawit menunjukkan angka paling rendah:
-
Karet: 2.44 mm/tahun
-
Kakao: 0.5 – 2.2 mm/tahun
-
Hutan primer: 1.0 – 1.7 mm/tahun
-
Sawit: Hanya 0.46 mm/tahun
(Sumber: Kobayashi et al., Kohler et al., McJannet et al., Pradiko et al.)
Water Footprint (Jejak Air)
Total air yang digunakan untuk memproduksi satu ton produk pertanian:
-
Kapas: ± 4.000 m³
-
Bunga Matahari: ± 3.500 m³
-
Kelapa: ± 3.000 m³
-
Rapeseed: ± 2.400 m³
-
Kedelai: ± 2.100 m³
-
Sawit: Hanya ± 1.100 m³
Bahkan air yang digunakan sawit mayoritas berasal dari air hujan, bukan irigasi atau air tanah yang bisa menyebabkan defisit sumber daya air.
Mekanisme Konservasi Air oleh Kelapa Sawit
-
Kanopi peneduh alami:
Struktur pelepah pohon sawit yang tebal dan menyeluruh mampu menahan air hujan dan mencegah erosi akibat limpasan air (run-off). -
Akar dalam dan luas:
Sistem akar serabut sawit membantu menyerap air hujan secara maksimal dan menyimpan cadangan air dalam tanah. Ini mencegah kekeringan dan menjaga kestabilan kelembapan tanah.
Kesimpulan: Tuduhan Boros Air Itu Tidak Tepat!
Data dari berbagai riset membuktikan bahwa sawit:
-
Paling rendah kebutuhan airnya
-
Efisien dalam menjaga cadangan air tanah
-
Berperan aktif dalam konservasi air
Jadi, tuduhan bahwa sawit menyebabkan kekeringan adalah mitos yang keliru.
Coster (1938). Kobayashi et al. (2014). Kohler et al. (2014). Mc Jannet et al. (2007). Pradiko et al. (2022). Makkonen & Hoekstra (2010)