Kalau solar sudah punya “saudara” 100% sawit bernama D100, ternyata bensin juga punya versinya sendiri — namanya G100, atau yang lebih akrab disebut bensin sawit. Sayangnya, tidak seperti D100 yang sudah berhasil diproduksi penuh, G100 ini masih menyimpan cerita yang belum selesai. Sejauh mana perkembangannya, dan kenapa kita belum bisa mengisi motor atau mobil dengan bensin sawit di SPBU terdekat.
Apa Itu G100?
G100 adalah istilah untuk bensin yang seluruhnya (100%) dibuat dari minyak kelapa sawit, bukan dari minyak bumi. Prosesnya memanfaatkan RBDPO — minyak sawit yang sudah dibersihkan dari getah dan baunya — yang kemudian diolah lewat reaksi kimia di dalam kilang sampai berubah menjadi senyawa setara bensin. Menariknya, proses ini justru bisa menaikkan nilai oktan bensin yang dihasilkan, bukan menurunkannya.
Sudah Sejauh Mana Perkembangannya?
Ceritanya dimulai dari akhir 2018, ketika Pertamina mulai menguji coba teknologi ini di Kilang Plaju, Sumatera Selatan. Caranya, minyak sawit (RBDPO) “disuntikkan” sedikit demi sedikit ke dalam proses pengolahan bensin di kilang — teknik ini disebut co-processing.
Hasilnya cukup menggembirakan:
- Suntikan 5% RBDPO menghasilkan bensin beroktan 90,7
- Ditingkatkan jadi 7,5%, hasilnya oktan 91,3
- Proyeksinya, kalau ditingkatkan sampai 12,5%, bensin yang dihasilkan bisa setara Pertamax beroktan 92
Sejak Desember 2018, Kilang Plaju bahkan sudah rutin memproduksi bensin hijau ini sebanyak 405 ribu barel per bulan — jumlah yang tidak main-main. Sebagai bonus, prosesnya juga menghasilkan gas elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan.
Tapi… Kok Belum Ada di SPBU?
Nah, ini bagian yang penting diluruskan. Yang berhasil dicapai Pertamina sejauh ini masih berupa campuran — bukan bensin 100% murni dari sawit seperti namanya “G100” menjanjikan. Sempat ada rencana untuk mengolah minyak sawit 100% jadi bahan bakar penuh, tapi sampai sekarang belum ada kabar realisasinya secara luas. Kemungkinan besar, dibutuhkan investasi besar dan dukungan kebijakan lebih lanjut agar mimpi bensin sawit ini benar-benar terwujud.
Jangan Salah Kaprah: Pertamax Green Itu Bukan dari Sawit
Banyak orang mengira Pertamax Green (baik yang 92 maupun 95) yang sudah dijual di SPBU itu terbuat dari sawit. Padahal, kandungan nabati di dalamnya (sekitar 5–7%) berasal dari bioetanol tebu, bukan minyak sawit. Jadi sampai saat ini:
- Pertalite, Pertamax biasa, Pertamax Turbo — masih 100% bahan bakar fosil, belum ada campuran nabati sama sekali
- Pertamax Green 92/95 — sudah mengandung bahan bakar nabati, tapi dari tebu, bukan sawit
- G100/bensin sawit — masih riset dan uji coba, belum dijual ke masyarakat
Kenapa Ini Penting Diperjuangkan?
Selama ini, bahan bakar nabati untuk bensin lebih banyak mengandalkan tebu lewat program bioetanol. Padahal Indonesia adalah raksasa produksi sawit dunia, dengan potensi bahan baku yang jauh lebih melimpah. Kalau G100 berhasil dikembangkan sampai skala komersial, ini bisa membuka pasar domestik baru yang besar bagi CPO — melengkapi biodiesel (untuk solar) dan bioavtur (untuk pesawat) yang sudah lebih dulu jalan.
Semoga saja perkembangan riset G100 ini bisa kembali digalakkan pemerintah, mengingat hasil ujinya sejak 2018 sebenarnya sudah cukup menjanjikan. Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita bisa mengisi bensin motor atau mobil dengan bahan bakar yang benar-benar 100% buatan petani sawit Indonesia.
Wikisawit. https://gapki.id/id/wikisawit/knowledge-base/apa-itu-g100-green-gasoline/