Minyak sawit memicu penyakit kanker (Mitos 5-10)
Selain penyakit kardiovaskuler, kandungan asam palmitat (asam lemak jenuh) yang relatif tinggi juga dikaitkan dengan isu minyak sawit sebagai pemicu penyakit kanker. Isu tersebut dipromosikan oleh berbagai studi yang dipublikasikan pada jurnal internasional salah satunya studi Pascual et al., (2021). Studi tersebut (Raharjo, 2022) ternyata diperoleh dari konsumsi minyak sawit berlebihan yakni 42 persen dari total kalori atau melebihi asupan normal (asupan normal adalah maksimal 30 persen total lemak dengan kandungan asam lemak jenuh dibawah 10 persen).
Peneliti sebelumnya yakni Fattore dan Fanelli (2013) serta Gesteiro et al. (2019) justru menunjukkan temuan studi yang berbeda. Kedua studi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada bukti spesifik yang menunjukkan konsumsi minyak sawit dapat meningkatkan resiko kanker. Bahkan berbagai studi justru menunjukkan konsumsi minyak sawit dapat berperan menekan perkembangan sel kanker, menurunkan, dan mengendalikan pertumbuhan (berat dan volume) tumor serta dapat mencegah berbagai penyakit degeneratif lainnya (Sylvester et al., 1986; Chong, 1987; Sundram et al., 1989; Komiyama et al., 1989; Muhilal et al, 1991; Iwasaki dan Murokoshi, 1992; Goh et al., 1994; Guthrie et al., 1993, 1995).
Minyak sawit yang kaya antioksidan seperti karoten (Vitamin A) serta tocopherols dan tocotrienols (Vitamin E) mampu melawan radikal bebas sebagai penyebab mutasi sel kanker sehingga dapat mencegah penyakit kanker (Sundram et al., 1990; Oluba et al., 2009). Sebagai catatan, minyak sawit memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi, dimana kandungan tocotrienols pada minyak sawit dua kali lebih banyak dibandingkan dengan minyak kedelai (Cho et al., 2009) sehingga kemampuan minyak sawit dalam mencegah kanker lebih besar (McIntyre et al., 2000).
Uraian di atas menunjukkan bahwa belum ada studi empiris yang membuktikan bahwa konsumsi minyak sawit pemicu kanker. Kandungan antioksidan yang tinggi pada minyak sawit justru menjadi “obat” yang mencegah berkembangnya sel kanker. Selain karotenoid, tocopherols, dan tocotrienols yang kaya antioksidan, senyawa bioaktif lain yang terkandung dalam minyak sawit seperti fitosterol, squalene, polifenol, dan co-enzyme Q10 (ubiquinone) juga memiliki sifat anti-cancer (Loganathan et al., 2010).
Sumber: Mitos Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4