Konsumsi minyak sawit dapat menimbulkan diabetes (Mitos 5-11)
Dalam beberapa tahun terakhir memang berkembang isu mengkaitkan konsumsi minyak nabati dengan diabetes. Penelitian tentang pengaruh konsumsi minyak sawit terhadap diabetes sampai saat ini sangat terbatas dilakukan para ahli gizi dan kesehatan karena kasusnya jarang ditemukan.
Bukti terkait efek konsumsi minyak sawit pada biomarker metabolisme glukosa masih terbatas (Zulkiply et al., 2019). Studi tersebut juga mengungkapkan tidak ada manfaat tambahan dari penggantian minyak sawit dengan minyak nabati lain yang kaya akan asam lemak tak jenuh tunggal atau asam lemak tak jenuh ganda terhadap perubahan metabolisme glukosa.
Sementara itu, beberapa penelitian (Odia et al., 2015; Marangoni et al., 2017; Genova et al., 2018) menunjukkan bahwa sama seperti penyakit kronis lainnya yang dikaitkan dengan minyak sawit seperti kardiovaskuler dan kanker, konsumsi minyak sawit dalam diet seimbang nampaknya juga tidak menimbulkan peningkatan risiko terhadap penyakit diabetes pada orang dewasa atau populasi pediatrik.
Kasus diabetes terkait dengan sekresi insulin yang sangat penting dalam metabolisme gula darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minyak sawit tidak mempengaruhi sekresi insulin sehingga tidak menimbulkan diabetes bahkan cenderung menurunkan kasus diabetes. Penelitian Sundram et al. (2007), Peairs et al. (2011), dan Filippou et al. (2014) menemukan bahwa konsumsi minyak sawit tidak mempengaruhi laju aktivitas/fungsi (sekresi) insulin maupun kadar glukosa darah. Bahkan studi Bovet et al. (2009) mengungkapkan bahwa penurunan konsumsi minyak sawit justru meningkatkan kasus diabetes.
Hal yang menarik adalah bahwa konsumsi minyak kedelai hidrogenisasi penuh (fully hydrogenated soybean oil) maupun hidrogenisasi parsial (partially hydrogenated soybean oil) justru menghambat produksi kelenjar insulin, meningkatkan kadar glukosa darah, dan menurunkan HDL kolesterol (Sundram et al., 2007). Dengan demikian sangat jelas bahwa konsumsi minyak sawit sebagai bahan makanan tidak mempengaruhi sekresi insulin maupun diabetes. Sebaliknya konsumsi minyak kedelai yang mengalami hidrogenisasi justru menghambat produksi insulin sehingga berpotensi meningkatkan kasus diabetes.
Uraian di atas menunjukkan bahwa belum ada bukti kuat yang mengungkapkan bahwa konsumsi minyak sawit menyebabkan penyakit diabetes. Meskipun masih terbatas, berbagai studi justru menunjukkan bahwa minyak sawit tidak mempengaruhi sekresi insulin sehingga tidak menimbulkan diabetes. Selain itu, kandungan tocotrienols pada minyak sawit juga memiliki manfaat kesehatan salah satunya anti-diabetic (Budin et al., 2009; Muharis et al., 2010; Longganathan et al., 2010).
Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4