Karhutla di Indonesia Terburuk? Bandingkan dengan Negara Lain di Sini!

Karhutla di Indonesia lebih besar dibandingkan negara lain (Mitos 6-22)

NGO anti sawit baik di dalam negeri maupun internasional yang banyak berafiliasi dengan negara produsen minyak nabati lainnya (kompetitor minyak sawit) selalu memojokkan industri sawit nasional dengan menuduh perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Isu tersebut di-framing kemudian disebarluaskan melalui jaringan media seperti koran, televisi, radio di seluruh dunia hingga berbagai platform sosial media. Concern masyarakat dunia yang begitu besar pada karhutla Indonesia, seolah-olah menunjukkan bahwa fenomena tersebut spesifik hanya terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilihat data empiris fenomena karhutla yang terjadi di Indonesia dan apakah fenomena tersebut juga terjadi di negara lain.

Karhutla yang terjadi dimana saja di seluruh negara dunia dan apapun penyebabnya merupakan kejadian yang merugikan. Karhutla menyebabkan terganggunya kesehatan masyarakat sekitar, kehilangan biodiversitas, polusi udara, dan kerugian ekonomi. Oleh sebab itu, semaksimal mungkin karhutla harus dicegah. Faktanya karhutla selalu terjadi di berbagai negara dan merupakan bagian dari fenomena perubahan iklim global.

Dalam periode tahun 2011-2021 (Gambar 1), luas karhutla per tahun di Amerika merupakan yang terbesar dibandingkan Eropa dan Indonesia. Rataan per tahun luas karhutla Amerika Serikat sekitar 4 juta hektar. Sedangkan rataan tahunan luas karhutla Rusia sekitar 2 juta hektar. Secara rataan per tahun, luas karhutla Indonesia dan Eropa relatif sama yakni sekitar 0.5 juta hektar. Umumnya luas karhutla terbesar terjadi pada saat El-Nino melanda dunia. Indonesia pernah mengalami El-Nino kuat pada tahun 2015 dan 2019 (PASPI Monitor, 2020j; Harsoyo dan Athohilah, 2022).

Tampaknya fenomena karhutla yang terjadi di setiap negara, baik di negara maju maupun negara berkembang, tidak sekedar berkaitan dengan masalah tata kelola hutan dan lahan. Fakta di atas menunjukkan bahwa negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia, yang memiliki teknologi maju dan peralatan terbaik, memiliki kemampuan manajemen, disiplin birokrasi pemerintah, didukung dana yang kuat, serta etos masyarakat yang mumpuni ternyata juga tidak mampu mencegah terjadinya karhutla setiap tahun. Ada variabel lain yang tampaknya belum bisa dikontrol oleh manusia.

Bahkan karhutla yang terjadi juga tidak terkait dengan ada atau tidaknya komoditas tertentu, seperti perkebunan kelapa sawit. Negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Rusia, yang tidak memiliki perkebunan kelapa sawit, namun karhutla di kawasan negara tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Referensi

  • Harsoyo B, Athoillah I. 2022. Paradigma Baru Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca dalam Upaya Penanganan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca. 23(1): 1-9
  • PASPI Monitor. 2020j. The Facts Behind Issues of Forest and Land Fires in Indonesia That Incriminating The Palm Oil Industry. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(13): 75-82.

 

Post View : 1550