Perkebunan Kelapa Sawit dan Biodiversitas: Benarkah Tak Bisa Sejalan?

Biodiversitas perkebunan kelapa sawit sangat rendah (Mitos 6-33)

Tanaman kelapa sawit ditanam dengan minimum tillage, minimum weeding, tidak ada ratoons, akan tumbuh menjadi pohon dengan diameter yang relatif besar dan tinggi, serta memiliki canopy cover mendekati 100 persen pada umur dewasa. Pohon kelapa sawit tumbuh dan berproduksi selama satu siklus (life span) yakni 25-30 tahun.

Pada saat land clearing atau penanaman, mungkin sebagian biodiversitas fauna akan migrasi sebentar ke lokasi sekitar, namun beberapa waktu kemudian akan kembali ke perkebunan kelapa sawit. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun juga memungkinkan tumbuh berkembangnya kembali biodiversitas pada areal perkebunan tersebut (kecuali mamalia besar) seiring dengan pertambahan umur kelapa sawit (PASPI Monitor, 2021a).

Berbagai studi empiris (Erniwati et al., 2017; Santosa et al., 2017; Santosa dan Purnamasari, 2017; Suharto et al., 2019) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (Ecosystem Benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (High Conservation Value) di sekitarnya.

Hasil studi tersebut mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas di perkebunan kelapa sawit tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada di Ecosystem Benchmark maupun HCV. Bahkan pengembangan perkebunan kelapa sawit di beberapa daerah lokasi penelitian, justru meningkatkan jumlah jenis biodiversitas seperti herpetofauna dan kupu-kupu dibandingkan jumlah jenis biodiversitas di Ecosystem Benchmark maupun HCV.

Dalam satu lanskap ekosistem perkebunan kelapa sawit terdiri dari beberapa tipe habitat seperti tanaman sawit umur muda, umur sedang, umur tua, semak belukar, dan area HCV yang tetap dibiarkan berhutan. Dengan bervariasinya lanskap tersebut menjadi area tumbuh berkembangnya flora dan fauna di ekosistem perkebunan kelapa sawit. Hal ini juga menunjukkan bahwa biodiversitas di perkebunan kelapa sawit tidak selalu lebih rendah dibandingkan lahan berhutan.

Selain itu, biodiversitas juga terlestarikan dalam sistem budidaya perkebunan kelapa sawit. Pada fase penanaman dan pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), di sela-sela tanaman kelapa sawit juga ditanam tanaman cover crop berupa tanaman kacang-kacangan seperti Calopogonium sp., Pueraria sp., Mucuna sp., Centrosema sp. (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 2021l).

Selain itu, para petani sawit juga mengembangkan berbagai pola integrasi seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/Immature dan integrasi sawit-ternak pada fase Tanaman Menghasilkan/Mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Utomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013) sehingga biodiversitas dari perkebunan kelapa sawit semakin meningkat. Dengan demikian, kiranya jelas bahwa biodiversitas perkebunan kelapa sawit pada saat land clearing memang menurun, namun biodiversitas mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur perkebunan kelapa sawit.

 


Referensi

  • Baihaqi A, Luthfi, Hidayat T. 2020. Dampak Keberadaan Program Coorporate Social Resposibility (CSR) Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakata di Desa Pandahan dan Desa Pulau Pinang Kabupaten Tapin. Frontier Agribisnis. 1(4): 113-120.
  • Batubara LP. 2004. Pola Pengembangan Usaha Ternak Kambing Melalui Pendekatan Integrasi dengan Sistem Usaha Perkebunan Karet dan Kelapa Sawit. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada Bogor, 6 Agustus 2004.
  • Erniwati, Zuhud EAM, Anas I, Sunkar A, Santosa Y. 2017. Independent Smallholder Oil Palm Expansion and Its Impact on Deforestation: Case Study in Kampar District, Riau Province, Indonesia. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 23(3): 119-127.
  • Ilham N, Saliem HP. 2011. Kelayakan Finansial Sistem Integrasi Sawit-Sapi Melalui Program Kredit Usaha Pembibitan Sapi. Analisis Kebijakan Pertanian. 9(4): 349-369.
  • Kusumawati SA, Yahya S, Hariyadi, Mulatsih S, Istina IN. 2021. The Dynamic of Carbon Dioxide (CO2) Emission and Land Coverage on Intercropping System on Oil Palm Replanting Area. Journal of Oil Palm Research. 33(2): 267-277.
  • Partohardjono S. 2003. Integrasi Tanaman Kelapa Sawit dengan Tanaman Pangan Jagung dan Ubi Kayu di Lahan Kering. Dipresentasikan pada Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi.
  • PASPI Monitor. 2021a. Biodiversity Loss to Produce Palm Oil is Higher than Other Vegetable Oils, isn’t True?. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(45): 563-568.
  • PASPI Monitor. 2021l. Oil Palm Plantation: An Integral Part of Soil and Water Conservation. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(26): 439-444.
  • Santosa Y, Purnamasari I. 2017. Variation Of Butterfly Diversity in Different Ages Palm Oil Plantationsin Kampar, Riau. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiviversitas Indonesia. 3(2): 278-285. https://doi.org/10.13057/psnmbi/m030220
  • Suharto R, Agus F, Santosa Y, Sipayung T, Gunarso, P. 2019. Kajian Terhadap European Union Renewable Energy Directive (EU Directive 2018/2001) dan EU Commission Delegated Regulation 2019/807 serta Perumusan Posisi Indonesia terhadap Kebijakan Tersebut. Jakarta (ID): Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit; PT Riset Perkebunan Nusantara.
  • Singerland M, Khasanah N, Noordwijk MV, Susanti A, Meilantina M. 2019. Improving Smallholder Inclusivity Through Integration of Oil Palm with Crops. Tropenbos Organization. Tersedia pada: https://www.tropenbos.org/file.php/2272/etfrnnews-slingerland-smallholderinclusivityoilpalmcrops.pdf
  • Sinurat A, Purwadaria T, Mathius IW, Sitompul DM, Manurung BP. 2004. Integrasi Sapi-Sawit: Upaya Pemenuhan Gizi Sapi dari Produk Samping. Prosiding Seminar Nasional Integrasi Tanaman-Ternak.
  • Utomo BN, Widjaja E. 2012. Pengembangan Sapi Potong Berbasis Industri Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Litbang Pertanian. 31(4): 153-161.
  • Yasin S, Iwan D, Ade C. 2006. Pengaruh Tanaman Penutup Tanah dan Berbagai Umur Tanaman Sawit Terhadap Kesuburan Tanah Ultisol di Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Solum. 3(1): 34-39.
  • Winarso, Basuno E. 2013. Pengembangan Pola Integrasi Tanaman – Ternak Merupakan Bagian Upaya Mendukung Usaha Pembibitan Sapi Dalam Negeri. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 31(2): 151-169.
Post View : 1513