Isu bahwa Indonesia termasuk salah satu negara terbesar penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) global kerap menjadi sorotan. Namun, data dan fakta terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda.

Studi Ritchie dan Roser (2017) mengungkapkan bahwa negara kontributor emisi GRK global dapat dilacak sejak awal 1700-an.
-
1700–1800-an: Inggris menjadi kontributor utama emisi GRK global, seiring revolusi industri pertama yang dimulai pada 1760-an.
-
Awal 1800-an: Uni Eropa muncul sebagai pemain utama dalam emisi global.
-
Sejak akhir 1800-an: Amerika Serikat bergabung sebagai salah satu dari tiga besar penyumbang emisi global, diikuti oleh India dan China.
Peningkatan emisi pada periode tersebut erat kaitannya dengan revolusi industri dan revolusi pertanian yang masif di Eropa dan Amerika Serikat.
Berdasarkan data tahun 2020, empat wilayah utama penyumbang emisi GRK global adalah:
-
China – 14,3 Gt CO₂ eq (28,7%)
-
Amerika Serikat – 5,64 Gt CO₂ eq (11,3%)
-
Uni Eropa – 3,44 Gt CO₂ eq (6,9%)
-
India – 2,21 Gt CO₂ eq (4,4%)
Secara total, keempatnya menyumbang 51,3% dari total emisi GRK global.
Bagaimana dengan Indonesia? Data tahun 2020 menunjukkan:
-
Emisi GRK Indonesia: 1,04 Gt CO₂ eq
-
Pangsa terhadap total emisi global: 2,1%
Jika dibandingkan dengan empat besar penyumbang emisi dunia, kontribusi Indonesia masih tergolong kecil. Artinya, klaim bahwa Indonesia adalah emitter terbesar secara global tidak sesuai dengan fakta.
Meskipun Indonesia tetap memiliki tanggung jawab dalam mengendalikan emisi GRK, data membuktikan bahwa perannya masih jauh di bawah China, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India. Oleh karena itu, penting bagi publik untuk memahami proporsi sebenarnya agar kebijakan iklim dan lingkungan bisa dibuat berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Ritchie H, Roser M. 2017. CO₂ and Other Greenhouse Gas Emissions. Our World in Data. Olivier JGJ, Schure KM, Peters JAHW. 2022. Trends in Global CO₂ and Total Greenhouse Gas Emissions: 2021 Summary Report.