Sawit Paling Hemat Deforestasi

Jika masyarakat dunia konsisten untuk mengurangi deforestasi, saatnya memilih minyak nabati yang hemat deforestasi

Minyak nabati merupakan salah satu  kebutuhan  masyarakat dunia untuk bahan pangan (minyak goreng, shortening, mentega, industri roti), industri kosmetik dan toiletries (sabun, deterjen, bahan bahan kosmetik) dan untuk energi (biodiesel, bioetanol, pembangkit listrik). Menurut data Oil World, setiap tahun masyarakat dunia membutuhkan sekitar 230 juta ton minyak nabati dengan tambahan  minyak nabati sekitar 6 juta ton per tahun.

Sawit Paling Hemat Deforestasi

Sayangnya, tidak ada bahan-bahan lain yang dapat menggantikan  minyak nabati tersebut, sehingga harus dihasilkan melalui kebun sawit, kebun kedelai, kebun rapeseed dan kebun bunga matahari. Untuk mengembangkan kebun-kebun minyak nabati tersebut, memerlukan lahan yang cukup luas. Dalam perluasan kebun-kebun tersebut mau tidak mau harus terjadi konversi lahan pertanian lainnya atau konversi hutan. Konversi lahan pertanian lainnya menjadi kebun minyak nabati sangat terbatas di setiap negara karena akan mengganggu ketahanan pangan yang lebih luas. Sehingga pilihannya terpaksa mengkonversi sebagian hutan menjadi lahan minyak nabati.

Disini, masalah muncul. Ekspansi kebun minyak nabati yang menggerogoti hutan (deforestasi) mendapat sorotan sebagian masyarakat dunia khususnya dari pegiat lingkungan. Bahkan Eropa baru-baru ini mengeluarkan resolusi sawit untuk mencegah deforestasi. Tentu saja  kita sepakat bahwa deforestasi hutan dunia harus dikendalikan  untuk melestarikan biodiversity dan lingkungan hidup global. Juga kita sepakat agar tidak mengulang “dosa” Eropa dan Amerika Utara dahulu yang melakukan deforestasi total sehingga hutan asli dan biodiversity sub tropis kini tinggal kenangan. Dipihak lain, masyarakat dunia juga memerlukan peningkatan bahan pangan termasuk minyak nabati untuk kesejahteraan. Karena itu jalan tengah harus diambil. Secara kolektif masyarakat dunia harus lebih bijaksana untuk membuat pilihan penyediaan minyak nabati dengan deforestasi minimum. Apakah ada?

Alternatif pertama, Masyarakat dunia memilih penyediaan minyak nabati pada ekspansi minyak rapeseed dan bunga matahari seperti yang ada di Eropa.  Dengan produktivitas minyak per hektar kedua tanaman minyak nabati tersebut sekitar 0,6 ton minyak per hektar, maka untuk memenuhi  6 juta ton minyak nabati kebutuhan dunia setiap tahun, dunia memerlukan tambahan lahan seluas 10 juta hektar lahan. Hal ini berarti deforestasi harus terjadi lagi sebesar 10 juta hektar setiap tahun.

Alternatif kedua, Masyarakat dunia memilih penyediaan minyak nabati dengan ekspansi kebun kedelai seperti di Brazil, Argentina dan Amerika Serikat. Dengan produktivitas 0,5 ton minyak per hektar kebun kedelai, maka untuk memenuhi tambahan minyak nabati dunia 6 juta ton per tahun, masyarakat dunia memerlukan tambahan lahan untuk ekspansi kebun kedelai seluas 12 juta hektar setiap tahun. Berarti tambahan deforestasi hutan seluas 12 juta hektar.

Alternatif ketiga, Masyarakat dunia memilih penyediaan minyak nabati dari minyak sawit. Produktivitas minyak kebun sawit (CPO, PKO) saat ini mencapai 6 ton minyak per hektar kebun sawit. Sehingga untuk memenuhi tambahan konsumsi minyak nabati dunia sebesar 6 juta ton per tahun, memerlukan tambahan kebun sawit dunia seluas 1 juta hektar.

Deforestasi untuk ekspansi sawit masih bisa ditekan dengan meningkatkan produktivitasnya menjadi 9 ton minyak/hektar (minyak nabati lain sulit ditingkatkan karena sudah kemampuan tanamanya memang begitu), sehingga deforestasi untuk ekspansi kebun sawit cukup hanya 600 ribu hektar per tahun.

Nah, sekarang terserah masyarakat dunia pilih mana. Memilih minyak rapeseed dan bunga matahari, minyak kedelai atau minyak sawit? Jika benar-benar masyarakat dunia, LSM lingkungan, akademisi, politisi berkomitmen mengendalikan deforestasi dunia, maka pilihanya adalah minyak nabati dengan deforestasi minimum yakni minyak sawit. Selamat Memilih.

Source : Sawit.or.id